| Foto : Istimewa |
Minggu, 11 Juni 2023
Tersesat Di Jalan Yang Benar
Sabtu, 03 Juni 2023
Tinta yang sempat Terputus : Titik Nol
| Foto : Istimewa |
Sabtu, 12 Agustus 2017
9 Alat Manual Brew yang harus kamu ketahui
![]() |
| Foto : Istimewa |
Ketahui jenis dan dasar dari penggunaan masing-masing alat dengan menyimak uraian di bawah ini.
Selasa, 13 Juni 2017
Soekarno & Secangkir Kopi
Bandung, akhir Juni 1921. Kota indah dengan benih-benih nasionalisme yang mulai bersemi. Soekarno muda tiba dari Surabaya. Datang untuk menjadi mahasiswa di Technische Hoogeschool te Bandoeng.
.
Tapi dunia pergerakan lebih menarik minat Soekarno muda daripada teori di bangku kuliah. Dengan cepat dia menjadi salah satu orator handal yang dikenal karena pidato-pidato yang membakar soal kebangsaan.
.
Di Bandung pula Soekarno menemukan gairah dan cinta pada ibu kosnya sendiri, Inggit Garnasih.
.
Cinta menemukan jalannya, Soekarno menikahi Inggit yang lebih tua 13 tahun. Saat itu Soekarno baru berusia 20 tahun sementara Inggit 33 tahun. Dengan setia Inggit mendampingi Soekarno. Rumah Inggit di Jalan Ciateul Bandung menjadi pusat pergerakan kaum nasionalis kala itu.
.
Inggit segera paham kebiasaan suaminya. Sampai-sampai dia tahu kapan harus menyediakan kopi dan panganan bagi para nasionalis muda itu. Saat debat pada puncaknya. Saat mereka mulai menggebrak meja dan seolah-olah ingin adu tinju. Maka Inggit akan muncul dengan nampan berisi gelas-gelas kopi. Perdebatan para politikus ini berhenti sesaat untuk menikmati secangkir kopi panas. Inggit pun tersenyum lega.
.
Soekarno sangat menyukai kopi tubruk yang hitam pekat. Sebuah kegembiraan jika seorang kawan yang punya uang lebih mentraktirnya minum kopi dan makan peyeum, makanan khas Bandung yang terbuat dari singkong.
.
Secangkir kopi tubruk sering menemani sang proklamator dalam menulis pidato yg membakar jiwa. Istilah Pancasila pun diperkenalkan oleh Sukarno dalam pidatonya pada tanggal 1 Juni 1945
.
Setelah Indonesia merdeka, Soekarno tetap rajin ngopi. Pada pagi hari Soekarno selalu minum kopi. Untuk makannya, hanya roti yang diolesi sedikit mentega dan gula
.
Suasana penuh canda tawa selalu terjadi di Istana setiap pagi. Tak ada batas antara Presiden dan para bawahannya. Kadang waktu minum kopi pagi ini juga dimanfaatkan Soekarno untuk berdiskusi dengan para menteri dan pejabat mendiskusikan masalah negara.
.
Selamat Hari Kelahiran Pancasila.
.
sumber : @genesiscoffee
Sabtu, 18 Juni 2016
Menggugah Perjuangan Perempuan*
Sejarah perjuangan perempuan melawan kolonialisme sangat minim diketahui oleh masyarakat Indonesia. Kebanyakan masyarakat mengenal pejuang-pejuang mereka melawan penjajah hanya dari kalangan laki-laki atau organisasi yang digerakkan oleh laki-laki semata. Padahal perempuan juga memberi andil besar mengantarkan perjuangan Indonesia menuju gerbang kemerdekaan.
Menurut Suryochondro di dalam bukunya Perkembangan Gerakan Wanita di Indonesia (2000), organisasi perempuan pertama di Indonesia adalah Poetri Mardika. Kelahiran organisasi perempuan ini tak lepas dari peran Budi Oetomo, yang memang tidak bisa dipisahkan dari gerakan nasional bahkan internasional yang memperjuangkan emansipasi, nasionalisme dan kolonialisme. Setelah itu muncullah berbagai organisasi perempuan seperti Jong Java Maniskering, Young Javanese Girls Circle, Wanita Oetomo, Aisyiah, Poetri Indonesia, Wanito Muljo, Jong Islamieten Bond dan lain-lain.
Pada masa itu, gerakan perempuan nasionalis ini bersatu membasmi ketidakadilan dari sistem kolonial sekaligus memperjuangkan hak-hak perempuan dan kesejajaran. Maka tak heran jika nama-nama pejuang perempuan besar tanah air itu dikenang dan menjadi sosok teladan untuk generasi saat ini, seperti Cut Nya Dien dan Cut Meutia dari Aceh, Martha Crhistina Tiahahu dari dari Maluku, dan Nyai Ageng Serang dari Jawa Tengah serta berbagai pejuang perempuan lainnya. Sayangnya, sejarah nasional kita kurang adil dalam menyingkap fakta perjuangan kalangan perempuan di kalangan masyarakat. Sehingga yang dipahami masyarakat hanyalah perjuangan laki-laki semata.
Perjuangan perempuan di masa kemerdekaan ini lebih sulit dari masa penjajahan. Di jaman kolonialisme, semua bahu-membahu melawan penjajah. Musuh yang dihadapi sangat nyata di depan mata, penjajah !. Akan tetapi setelah kemerdekaan, perjuangan kaum perempuan beralih kepada perjuangan kesamaan politik, hak memperoleh pendidikan dan kesempatan kerja. Akan tetapi, perjuangan-perjuangan ini harus berhadapan dengan kasus-kasus diskriminasi dan pembagian peran yang tidak adil antara laki-laki dan perempuan.
Misalkan dalam ranah politik, masih teringat jelas di benak kita bagaimana pada tahun 1999 terdapat wacana pemimpin perempuan. Akan tetapi para politisi menggunakan nalar dan argumentasi agama untuk mendelegitimasi perempuan di kancah politik. Mereka menganggap perempuan tidak berhak menjadi pemimpin. Padahala langkah itu semata-mata untuk mengganjal politik Megawati untuk menjadi Presiden. Hal ini bisa dibuktikan ketika kemudian hampir seluruh politisi tidak mempersoalkan Megawati untuk menggantikan kepemimpinan Gus Dur. Artinya, kepentingan politik juga mengarah pada diskriminasi terhadap perempuan.
Dalam ranah legislatif, memang sudah terdapat UU perihal keharusan 30% partisipasi perempuan di wakil rakyat. Akan tetapi, kuota ini sangat sulit terpenuhi. Banyak di kalangan partai politik sulit memenuhi kuota tersebut karena di satu sisi jumlah tokoh politik perempuan mungkin masih terbatas, tetapi di sisi yang lain banyak dari kalangan politisi laki-laki yang kurang bersemangat untuk memenuhi kuota tersebut. Toh jika pun ada, mereka hanya mengakomodir kalangan perempuan yang memiliki pengaruh dan masa yang besar, tanpa mempertimbangan hak-hak perempuan dengan kepemimpinan yang baik dan integritas yang teruji.
Begitu juga dalam berbagai bidang-bidang lain. Diskriminasi terhadap perempuan masih banyak terjadi, sebagaimana pemerkosaan dan bentuk-bentuk kekerasan, pelecehan seksual lainnya, perdagangan perempuan, diskriminasi di tempat kerja dan banyak kasus lainnya. Untuk itu masalah pemberdayaan perempuan atau persoalan bagaimana perempuan diletakkan dalam kehidupan bernegara sangat penting untuk terus diperjuangkan, mengingat masih banyak persoalan tentang perempuan belum bisa diatasi.
Perempuan sebagaimana juga laki-laki merupakan warga negara dengan hak-hak kewarganegaraan yang sama. Oleh karena itu, tidak boleh ada diskriminalisasi hanya karena perbedaan jenis kelamin, sebagaimana juga tidak dibenarkan diskriminasi terhadap perbedaan agama, suku, bahasa, kelas ekonomi, ras, dan lain-lain, karena hal ini bertentangan dengan prinsip-prinsip demokrasi dan hak asasi manusia secra universal.
Perjuangan tersebut harus diletakkan dalam keadilan sosial yang lebih luas, yakni membebaskan manusia dari berbagai bentuk diskriminasi. Permasalahan dan diskriminasi terhadap perempuan saat ini bukan hanya permasalahan yang harus diperjuangkann oleh perempuan semata, tetapi ini menjadi permasalahan bersama, baik laki-laki maupun perempuan. Masyarakat yang berkeadilan gender tidak hanya akan menguntungkan perempuan, tetapi juga laki-laki, karena majunya perempuan akan memberi dampak kemajuan bagi seluruh masyarakat, baik laki-laki maupun perempuan.
Apatisme Mahasiswi
Sayangnya, berbagai persoalan ini justru tidak mendapatkan kesadaran serius di kalangan perempuan sendiri. Harus diakui, sikap apatisme mahasiswi terhadap politik, pendidikan, budaya dan sosial kemasyarakatan masih menjadi penyakit yang akut. Sebagai kader intelektual perempuan, banyak kalangan mahasiswi yang acuh terhadap kondisi bangsa dan negara serta lingkungan sekitar. Sikap rendah diri, masa bodoh, dan penakut merupakan suatu bentuk tindakan yang masih membayangi mahasiswi. Sikap itu tidak seharusnya ada pada diri setiap perempuan. Sifat-sifat kerendahan itu harus dilenyapkan. Atas dasar tanggung jawab terhadap bangsa dan agama, maka partisipasi perempuan di dalam ranah publik merupakan sebuah kemutlakan.
Perempuan mempunyai hak-hak dalam kehidupan meliputi segala aspek kehidupan baik dalam ranah politik, sosial, ekonomi, maupun kebudayaan. Hak-hak ini merupakan tuntutan nurani yang mendorong manusia untuk berkeinginan, berkehendak dan berbuat sebagai realisasi dan manifestasi ajaran-ajaran Islam. Naifnya, mahasiswi saat ini justru memilih untuk menghabiskan waktu pada hal-hal yang tidak bermanfaat. Mereka sibuk dengan gadget, tren sosial, penampilan ataupun gaya hidup yang semakin tinggi. Ujungnya, hanya mengahasilkan konsumerisme, hedonisme dan apatisme sosial. Jangankan melanjutkan perjuangan perempuan, mengetahui dan memahami saja tidak pernah, apalagi peka terhadap politik, ekonomi, dan sosial.
Harus pula dipahami, masih sangat minim usaha-usaha konkrit mahasiswi ke dalam partisipasi publik yang meliputi bidang-bidang organisasi, administrasi, latihan-latihan kepemimpinan, pendidikan dan pengajaran, kebudayaan, dakwah maupun dalam berbagai bentuk sosial kemasyarakatan lain. Padahal hal ini menyangkut peri hidup perempuan dalam hubungannya dengan pengabdian terhadap masyarakat. Adapun pengabdian merupakan salah satu dari bagian Tri Dharma perguruan tinggi. Jika pengabdian diiringi dengan niat yang ikhlas dan sebuah bentuk ketaatan terhadap perintah Tuhan, maka akan melahirkan sebuah amal ibadah mulia.
Sebagai mahasiswi dan anggota masyarakat, perempuan harus berpartisipasi dalam ranah politik, ekonomi, kebudayaan maupun kehidupan sosial masyarakat. Karena itu semua merupakan manifesto antara ilmu dan amal, antara teori dan perbuatan. Sebuah bentuk konkrit penyatuan antar kata dan tindakan kepada masyarakat selagi tidak bertentangan dengan nilai-nilai ajaran agama. Dikotomi antar mahasiswi dan sosial masyarakat mutlak harus ditolak.
*(Syarifaeni Fahdiah ; Ketua Umum Kohati Cabang Ciputat)
Kamis, 16 Juni 2016
Ajari Aku Tuhan
Banyak cara Tuhan untuk mengasihi kita sebagai umatnya. dengan memberikan kita kecukupan, memberikan kita kekurangan, memberikan kita arti kehidupan serta memberikan kita rasa cinta.
ya....
Terkadang kita yang terlalu egois dengan diri kita sendiri. Egois dengan apa kehendak kita yang harus terpenuhi, egois dengan semua keinginan yang tak ada habisnya, sampai sampai kita lupa bahwa semua yang telah kita miliki saat ini adalah dari-NYA.
Tuhan memberikan kita rasa kasih, agar kita selalu mengingat-Nya. Tuhan memberikan kita kecukupan agar kita selalu bersyukur kepada-Nya, dan Tuhan memberikan kita rasa Cinta agar kita senantiasa mencintai-Nya.
Banyak cara kita untuk mencintai-Nya, mungkin dengan bersyukur, mungkin dengan menjalankan perintah-Nya, atau mungkin juga dengan Mencintai serta mengagumi ciptaan-Nya.
Banyak dari kita yang lupa bahwa Cinta sejati itu adalah milik-Nya, Cinta yang Haqiqi itu hanyalah kepada-Nya. Semua yang kita Cintai haruslah di dasari oleh kecintaan kita kepada-Nya.
Begitu juga dengan Rasa Cinta kita kepada manusia, Cinta yang harus didasari oleh Kecintaan kita kepada-Nya, tetapi mungkin dalam setiap rasa cinta itu, ada sisi-sisi kemanusiaan seorang manusia yang jauh dari kata sempurna.
Yang harus selalu kita yakini bahwa Cinta itu akan sempurna bila rasa cinta kita kepada manusia, selalu didasari oleh Kecintaan kepada-Nya.
Tuhan..
ajari aku untuk selalu Istiqomah dijalan-Mu, Ingatkan aku ketika aku telah jauh dari jalan-mu, dan bimbinglah aku untuk selalu mencintai ciptaan-mu karena Rasa cintaku Pada-Mu.
~V
Kamis, 19 November 2015
Surat Untuk Ibu
Dimana aku bersandung tentang dukamu
Inilah laguku untukmu ibu
Sekedar pengharapanku agar kau tahu
Setulus kewajibanku sebagai seorang anak
Membingkai kenangan kita
Butiran-butiran kenangan perjalanan waktu
Waktu yang selalu kuingat dalam sentuhan wejanganmu
Diujung pintu rumah ku berlalu
Menahan pilu tentang kehilangan dirimu
Tapi jalan hidup adalah nuansa
Nuansa yang ingin kujawab dengan kebenaran yang sempurna
Ber-antah logika yang harus kuterima
Logika dari fakta konsekuensi ujung hati yang ingin bicara
Tentang fakta, tentang realita yang kutemukan bersama cinta empunya Syurga
Bahasa kasih sayang dari keharuman Madinah
Di setiap pertarungan sisi hati yang ingin menyapa hidayah
Hidayah dari sebuah permata
Yang membakar batas peradaban dunia
Sudahkah kau mau mengerti ? Tentang Ikhlasnya hatiku
Tentang Alloh dan kebenaranNya sentuhi ruang hatiku
Ku tak pernah bermaksud menyakitimu (ibu).
Tapi inilah jalan hidupku yang kupilih tanpa paksaan
Nurani yang memanggil jiwaku …
Salahkah aku bertanya tentang Trinitas
Atau tentang Tuhan yang kecewa kepada pohon Ara
Atau legenda sang Rasul pembohong di Antiokia
Lalu siapakah Lord dan pornografi incest dalam cerita Kejadian ?
Dan nabi seperti apakah yang telanjang di depan budak perempuan para hambanya
Seperti Apsalon yang menzinai gundik ayahnya, di depan mata seluruh Israel
Skematis rasis di pintu Samaria
Dan perempuan Kana’an yang teraskan anjing pramuria
Beri celah antara kerancuan dan kitab tercabul melebur zina
Bagi Tuhan yang bahkan masih bisa tertidur dan menangis ketakutan
Bacakanlah doktrin itu Ibu, Dogma tritunggal yang membohongi fakta
Hingga misteri laki-laki yang bersinar dari pegunungan Paran
Generasi cahaya Robbani dari revolusi suku Edar
Dan mimpi Yesaya atas kedatangan pasukan onta
Maka aku bersaksi Ibu, Diatas ketulusan hati ini
~ Bahwa tiada Tuhan selain Alloh, dan nabi Muhammad itu utusan Alloh ~
By : Thufail Al-Ghiffari
Sabtu, 07 November 2015
Rintik Hujan dan Secangkir Kopi Kehidupan.
Ciputat, 7 November 2015
Hari ini Ciputat akhirnya kembali merasakan sejuknya tetesan air hujan.
Rintik rintik hujan itu seakan mengisyaratkan bahwa Tuhan masih memberikan kasih sayangnya untuk kota kecil ini.
Ketika menyoal tentang hujan, terbesit di fikiranku ini tentang sebuah cerita, cerita yang akan mengajarkan kita tentang hidup, tentang hidup di dalam kehidupan, tentang menghidupi kehidupan dan tentang kehidupan itu sendiri.
Hidup tak selalu terasa manis, terkadang ada saatnya dimana engkau harus menikmati pahitnya hidup itu sendiri, Karena Seorang penyair pernah berkata, Setidaknya kita bisa belajar makna hidup dari secangkir Kopi, ada pahit dan manis bercampur menjadi satu yang membuatnya menjadi sempurna.
Sebenarnya banyak makna dari hal-hal kecil yang sering terlewatkan oleh kita,
Tetapi yang terpenting adalah bagaimana kita menyadari bahwa kasih sayang Tuhan akan selalu ada untuk kita, entah itu dari rintik hujan, ataupun secangkir kopi kehidupan.
Senin, 21 September 2015
SELAMAT ULANG TAHUN HMI KAFEIS
22 september 2008 - 22 september 2015
Selamat Ulang Tahun Kafeisku..
7 tahun sudah komisariat ini berdiri, selama itu pula kita telah melewati suka duka, pahit manis di rumah kecil penuh makna ini.
7 tahun sudah Kafeis terus menjalankan roda perkaderan di FEB UIN JKT khususnya. 7 tahun bukanlah waktu yang singkat, meskipun tergolong komisariat yang masih seumur jagung di Cabang Ciputat, tetapi Kafeis mampu untuk bertahan, melahirkan kader-kader yang cinta seutuhnya kepada HMI.
Selamat ulang tahun Kafeis..
Do'a ku semoga 7 tahun yang telah dilalui ini menjadi pembelajaran bagi kita semua, agar kita tetap bisa menjaga nama baik Kafeis, agar kami tetap bisa menjadi Harapan negeri ini, dan agar kami tetap bisa melanjutkan cita-cita Para pendahulu kami untuk menjadi Insan yang diridhoi Allah SWT.
Yakin Usaha Sampai!!
Selamat Ulang Tahun Kafeis...
Selasa, 15 September 2015
SKENARIO KEHIDUPAN
Skenario Kehidupan
Terkadang, ketika kita dihadapkan kepada suatu hal yang mengharuskan kita memilih, Kita cenderung akan memilih mana yang terbaik bagi diri kita. Sebenarnya tidak ada yang salah dalam hal ini, hanya saja terkadang kita lupa bahwa yang terbaik bagi kita itu belum tentu terbaik bagi orang lain.
Dalam hidup, tidak jarang kita menemukan hal-hal yang membuat kita terkekang, terbebani dan bahkan menjadikan kita seperti tidak mempuyai pilihan. Tetapi hal ini yang nantinya akan menjadi sebuah jembatan bagi kita untuk menilai seberapa dewasakah diri kita.
Berbicara soal kedewasaan, itu tidak dapat kita ukur dari berapa tuakah umur kita, tetapi kedewasaan yang sesungguhnya akan didapat melalui pengalaman hidup yang kita jalani.
Banyak orang yang berkata bahwa hidup ini hanyalah sebuah panggung dimana kita melakukan sebuah peran yang mengharuskan kita mengikuti sebuah skenario yang telah ada. Skenario yang telah diciptakan untuk membawa kita mencapai akhir dari adegan di dalam panggung kehidupan ini.
Bagiku hidup ini memang sebuah scenario Tuhan, tetapi tidak semua dari scenario yang ada serta merta harus kita ikuti alurnya. Adakalanya scenario ini harus kita koreksi agar dapat menciptakan sebuah jalan cerita yang lebih menarik, dan pastinya dengan akhir cerita yang bahagia.
Berbicara soal kehidupan, manusia dalam kehidupannya memiliki jalan sendiri-sendiri untuk melakukan scenario hidupnya.
Untuk menjalaknan scenario tersebut, manusia tidak bisa terlepas dari scenario hidup orang lain disekitarnya.
Kunci untuk menjalankan scenario ini adalah dengan dengan mencoba memahami scenario hidup orang lain agar kita tahu dimana akan terjadi cerita yang sama dan bagian mana yang akan menjadi klimaks dari cerita yang akan kita jalani.
Cerita-cerita yang kita ciptakan dalam hidup ini nantinya akan menjadi sebuah film yang akan ditonton oleh orang lain ketika kita telah menyelesaikan scenario yang ada. Bagus atau tidaknya film yang telah kita ciptakan ini nantinya menjadi penilaian oleh orang-orang yang akan menontonnya.
Jadi, marilah kita jalankan scenario yang telah diciptakan oleh Tuhan. kita sunting bagian mana yang sekiranya perlu kita rubah dalam scenario tersebut., kita ciptakan sebuah film yang menarik dan memiliki cerita yang terbaik. Agar orang orang yang akan menonton film yang kita ciptakan ini dapat mengerti, dan mereka tahu bahwa film yang telah kita ciptakan itu adalah film terbaik bagi kita.
Ciputat, 16 september 2015
Rabu, 01 April 2015
Proses menuju Kedewasaan
Dalam hidup, tak jarang kita menemui kendala-kendala serta masalah yang seakan-akan membuat kita tak ingin lagi hidup di duina ini. Tetapi jika kita fikir dengan fikiran yang jernih, kendala dan masalah itulah sebenarnya yang akan membuat kita semakin Dewasa di dalam hidup ini.
Menjadi seorang pemimpin tidaklah mudah, adakalanya kita dihadapkan dalam posisi yang sangat pelik, antara harus mengorbankan satu hal demi terwujudnya hal lain, sala satunya adalah WAKTU.
Ya.. Waktu kita untuk menikmati hidup seperti orang lain akan tersita demi sebuah tugas keumatan. Ini hanya salah satu dari sekian ribu contoh apa yang harus dikorbankan oleh seorang pemimpin. Tetapi ingatlah.... Semua itu tak akan sia-sia, karna dibalik itu semua Allah SWT pasti telah mempersiapkan sebuah jalan untuk kita, jalan untuk menjadi orang besar, jalan untuk menemukan makna hidup yang sebenarnya, dan pastinya adalah jalan untuk menuju kepada-NYA. #RefleksiSeorangKader
Minggu, 15 Februari 2015
Tan Malaka Mendebat Bung Karno
Tan Malaka menginjakkan kakinya kembali di tanah air setelah Belanda menyerah kepada Jepang pada 1942. Meski sudah berada di tanah air, Tan tetap menggunakan nama samaran guna menghindari intel Jepang dan negara imperialis.
Salah satu tempat yang sempat ditinggali Tan Malaka saat awal-awal kedatangannya kembali ke tanah air adalah Bayah, Banten. Tan tiba di kota itu Juni 1943. Saat itu Tan harus bekerja karena uang di kantongnya telah menipis.
Sementara untuk meminta bantuan kepada kaum pergerakan kemerdekaan saat itu Tan belum berani. Sebab, begitu lamanya dia berada di luar negeri sebagai orang buangan membuatnya ‘buta’ pada peta perpolitikan dan pergerakan di tanah air. Tan tak tahu yang mana teman dan mana lawan yang berkoloni dengan Jepang.
Di Bayah, Banten, Tan bekerja di bagian administrasi sebagai juru tulis para romusha. Di kemudian hari Tan diangkat menjadi kepala. Selain bekerja, Tan juga memberi berbagai pendidikan kepada para romusha di kota itu. Dalam hatinya, Tan sedih atas nasib yang menimpa saudara sebangsanya itu.
Karenanya romusha Bayah, Banten, menjadi salah satu kisah yang tak terlupakan bagi Tan. Bayah juga menjadi tempat pertemuan Tan Malaka dengan Soekarno untuk kali pertama. Namun saat itu Bung Karno tak mengetahui orang itu adalah Tan Malaka tokoh yang pemikirannya banyak menjadi inspirasinya. Sebab, saat itu Tan menyamar dengan nama Ilyas Hussein.
Saat itu lokasi tempat kerja Tan Malaka mendapat kehormatan untuk dikunjungi oleh dua pemimpin besar yang saat itu namanya tengah bersinar dalam perjuangan rakyat Indonesia yakni Soekarno dan Moh Hatta. Berbagai persiapan pun dilakukan untuk menyambut keduanya.
Saat itu Tan mendapat tugas untuk menyambut Bung Karno dan Hatta di pintu gerbang dan mengantarkan ke ruang pertemuan. Tan juga ditugasi untuk membawakan makanan dan minuman kepada keduanya.
Dalam biografinya ‘Dari Penjara ke Penjara’ Tan Malaka awalnya gembira bisa bertemu dengan Bung Karno dan Hatta. Sampai-sampai ia dipinjami temannya kemeja dan dasi karena pakaian yang dimilikinya penuh dengan tambalan dan dirasa kurang layak untuk digunakan bertemu dua tokoh itu.
Setelah sampai di ruang pertemuan, Bung Karno dan Bung Hatta lantas menyampaikan pidatonya masing-masing. Namun, pidato itu rupanya tak memuaskan hati Tan Malaka.
“Pidato itu tak berapa bedanya dengan berlusin-lusin yang diucapkannya di rapat raksasa dan radio… Sari isinya ialah cocok dengan kehendak Jepang penjajah: ‘Kita mesti berbakti dulu kepada Jepang, saudara tua, yang sekarang berperang mati-matian menantang Sekutu yang jahanam itu. Setelah Sekutu kalah maka kita oleh ‘saudara tua’ akan diberi kemerdekaan…” kata Tan Malaka.
Usai keduanya berpidato, sang moderator Sukarjo Wiryopranoto, lantas membuka sesi tanya jawab. Peserta pertemuan diberi kesempatan untuk bertanya kepada Bung Karno dan Bung Hatta. Namun, pertanyaan dari beberapa peserta malah tak mendapat jawaban serius. Bahkan sang moderator sempat beberapa kali mengejek pertanyaan yang dilontarkan oleh para pekerja.
Tak terima atas hal itu, Tan Malaka yang saat itu tengah membawa makanan tiba-tiba langsung meletakkan nampan wadah untuk makanan. Dari posisi paling belakang peserta, Tan langsung mengajukan pertanyaan kepada Bung Karno.
“Kalau saya tiada salah bahwa kemenangan terakhir akan menjamin kemerdekaan Indonesia. Artinya itu kemenangan terakhir dahulu dan di belakangnya baru kemerdekaan Indonesia? Apakah tiada lebih cepat bahwa kemerdekaan Indonesia-lah kelak yang lebih menjamin kemenangan terakhir,” tanya Tan yang saat itu dikenal sebagai Ilyas Hussein.
Dengan sikap yang tak begitu mempedulikan, Bung Karno lantas berdiri dan memberi jawaban. Saat itu Bung Karno menjawab jika Indonesia diberikan kemerdekaan saat itu juga oleh Jepang, nantinya Indonesia akan terpaksa juga memperjuangkan kemerdekaan itu.
“Buktikanlah jasa kita lebih dahulu! Berhubung dengan banyaknya jasa kita itulah kelak Dai Nippon akan memberikan kemerdekaan kepada kita,” demikian jawaban Bung Karno.
Merasa tak sehaluan dengan pemikiran Bung Karno soal kemerdekaan, Tan Malaka lantas kembali berbicara. Tan sadar perlunya perjuangan meski misalnya saat itu juga Indonesia telah merdeka. Namun, perjuangan kemerdekaan akan lebih semangat dilakukan jika bukan didasarkan atas janji pemberian pihak lain, melainkan atas usaha sendiri.
Menurut Tan Malaka semangat untuk membela naik dengan adanya hak nyata yang sudah ada di tangan. Dengan ditetapkannya hari kemerdekaan Indonesia maka rakyat Indonesia akan berjuang mati-matian untuk membela dan mempertahankannya.
Usai Tan berhenti bicara, Bung Karno langsung berdiri sambil merapikan pakaian dan melihat kanan kiri. Seakan ingin menunjukkan siapa dirinya, Bung Karno lantas dengan lantang memberikan sebuah pernyataan yang intinya tetap pada pendiriannya.
“Kalau Dai Nippon sekarang juga memberikan kemerdekaan kepada saya, maka saya (Soekarno) tiada akan terima,” kata Bung Karno.
Tak puas dengan jawaban Bung Karno, Tan Malaka pun hendak kembali melontarkan pendapatnya. Namun keinginannya itu tak bisa terlaksana. Seorang pengawas pekerja melarangnya untuk kembali berbicara.
“Saya terpaksa tidak mengizinkan lagi tuan Hussein (Tan Malaka) untuk berbicara,” kata pengawas itu.
Perbedaan pemikiran antara Tan Malaka dengan Bung Karno itu kemudian berlanjut hingga setelah proklamasi kemerdekaan. Namun saat itu Tan Malaka sudah membuka identitasnya. Bung Karno kukuh dengan pendiriannya untuk melakukan perundingan dengan Belanda, sementara Tan Malaka tak setuju. Tan memiliki prinsip kemerdekaan harus diraih 100 persen.
Perundingan hanya bisa dilakukan jika Belanda dan sekutunya mengakui kemerdekaan Indonesia 100 persen dan menarik pasukannya dari wilayah Indonesia. Jika hal itu tak terjadi, kemerdekaan dapat diraih dengan cara perang dengan strategi gerilya.
(Sumber: Merdeka.com)
Rabu, 04 Februari 2015
Selamat Ulang Tahun Himpunanku
68 tahun yang lalu, dimana Kakanda Lafran Pane beserta kawan-kawannya menuangkan gagasan-gagasan serta ide-ide mereka sehingga sampai detik ini kita masih bisa merasakan betapa hangatnya Himpunan yang mereka lahirkan ini. 68 Tahun sudah Himpunan ini melewati berbagai zaman, mencoba tetap bertahan dalam dinamika-dinamika yang terjadi. Tak jarang Himpunanku ini menuai kritik dan celaan serta caci maki, tetapi dengan Bersyukur dan Ikhlas serta Berdo'a dan Ikrar Himpunanku ini mampu menjawab caci makian itu semua.
Sering kali aku mendengar sebuah kalimat "Jangan pikirkan apa yang bisa HMI berikan kepadamu, tetapi pikirkan apa yang kamu bisa berikan untuk HMI". Ternyata benar, HMI ku ini hanyalah sebuah lambang yang tidak bisa bergerak,kaku dan mati. Tetapi Karena perjuangan dan semangat kader-kadernyalah Himpunan ini masih tetap bertahan sampai detik ini.
Selamat ulang tahun Himpunanku, Do'a ku semoga 68 tahun yang telah dilalui ini menjadi pembelajaran bagi kami semua, agar kami tetap bisa menjaga nama baikmu, agar kami tetap bisa menjadi Harapan negeri ini, dan agar kami tetap bisa melanjutkan cita-cita Para pendahulu kami untuk menjadi Insan yang diridhoi Allah SWT.
Yakin Usaha Sampai!!
Selamat Ulang Tahun Himpunanku
Selasa, 22 April 2014
AMBIVALENSI KEMAJUAN ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI
LUNTURNYA MAKNA BHINEKA TUNGGAL IKA BAGI MASYARAKAT INDONESIA
MEMBAKAR KEMBALI SEMANGAT SUMPAH PEMUDA
SEPAKBOLA SEBAGAI MEDIA PEMERSATU BANGSA




.jpg)