Minggu, 11 Juni 2023

Tersesat Di Jalan Yang Benar

Foto : Istimewa


Dalam proses Kehidupan, perjalanan setiap manusia tidaklah selalu sama. Ada manusia yang mengikuti jalan orang lain yang telah lebih dulu menjalaninya, dan ada manusia yang berusaha membentuk jalannya sendiri. 

Keduanya tidak ada yang salah, tergantung cara kita melihat dan menyikapi tentang perjalanan itu, dan pada akhirnya jalan tersebut akan bermuara kepada satu tujuan yang sama, yaitu "Titik Akhir Kehidupan"

Dalam setiap perjalanan yang aku lalui, tak jarang aku berperang dengan pikiranku sendiri. 
"Apakah aku sudah berada pada jalan yang seharusnya, atau aku harus putar arah dan mencari jalan lain?"

Pertanyaan seperti itu kerap muncul setiap aku merasakan kerikil-kerikil kecil atau lobang-lobang besar  yang mengganggu setiap perjalananku. 
Pilihannya ada dua, meneruskan jalan itu dan siap dengan berbagai resiko yg akan dihadapi atau mencari jalan alternatif lain yang akupun belum tahu jalan itu akan lebih baik atau malah lebih berisiko dari jalan yang aku tempuh saat ini. 

Pada titik ini, tingkat kedewasaanku serta proses sebuah penerimaan takdir atas aku berpengaruh besar dalam setiap pengambilan keputusan. 
Berbagai pertimbangan di bedah satu persatu, baik dan buruk ditelaah dengan bijak serta peluang dan resiko selalu menjadi tolak ukur dalam memilih.

Dan pada akhirnya, akupun sampai pada sebuah kesimpulan bahwa "aku akan meneruskan jalanku, entah apa yang menungguku di depan, aku siap dan akan kuhadapi satu per satu"

Keputusan ini bukan karena aku merasa sudah terlanjur jauh berjalan pada jalanku, tetapi karena aku yakin ketika memilih jalan yang lain pun pasti akan ada kerikil-kerikil serta lobang-lobang besar pada jalan itu, hanya saja kita tidak pernah tau di kilometer berapa dan kapan akan melewatinya. 

Dalam setiap perjalanan yang aku tempuh, aku selalu berusaha mematuhi "rambu-rambu" yang ada pada jalanku, dan seiring aku berjalan, kerap pula aku tak mengindahkan rambu-rambu itu sehingga perjalananku terasa tidak stabil dan mengalami banyak kendala. 

Tetapi, yang aku tahu bahwa aku tetap berada pada koridor jalanku. Tidak berbelok ke jalan yang salah dan tidak pula putus asa dan menghentikan perjalananku. 

Aku pernah merasa seperti tersesat di jalan ku sendiri, tetapi aku tetap menjalaninya dengan berpedoman kepada "rambu-rambu" itu sampai titik akhir perjalananku. HAH

Payakumbuh, 12 Juni 2023.

Sabtu, 03 Juni 2023

Tinta yang sempat Terputus : Titik Nol

Foto : Istimewa


Dua Ribu Tujuh Belas, tahun dimana perjalanan sebuah pencarian itu sempat terhenti. Entah karena memang tinta itu sudah habis, atau memang enggan untuk mengisinya kembali. 

Dua Ribu Dua Puluh Tiga, enam tahun lamanya tinta itu dibiarkan habis, mengering dan menghilang tanpa jejak. 

Mungkin memang harus ada sedikit pecutan untuk diri ini kembali merakit tinta-tinta itu menjadi tulisan-tulisan tentang sebuah pencarian atas ketidaktahuan. 

Sempat teringat pesan dari Pram, menulislah, karena tanpa menulis engkau akan hilang dari pusaran sejarah. 

Ya, pesan itu benar adanya. Aku merasa enam tahun ini tenggelam dan hanyut dalam pusaran ketiadaan, sirna. 
Ada seperti tiada, berjalan tapi tak berjejak. Hidup tapi tidak ada tanda kehidupan. 

Mulai dari titik ini, tinta yang habis itu harus segera diisi, tinta yang bisa menjadikan "ada" Itu memang benar adanya. Tinta yang bisa membuat sebuah langkah bisa meninggalkan "jejak" nya. Tinta yang bisa membuat "hidup" Menjadi sebuah kehidupan  yang penuh dengan tanda-tanda. 

Titik Nol : dimulai "kembali"

Payakumbuh, 4 Juni 2023.






Sabtu, 12 Agustus 2017

9 Alat Manual Brew yang harus kamu ketahui

Foto : Istimewa


Semakin ke sini, semakin banyak yang tergila-gila dengan metode manual brewing untuk menikmati secangkir kopi. Setiap kedai kopi yang kekinian, tak lengkap rasanya jika tak menawarkan menu kopi dari manual brewing. Sesuai namanya, manual brewing adalah teknik menyeduh kopi menggunakan alat yang harus dioperasikan secara manual oleh manusia atau baristanya. Jadi, manusia atau baristanya yang harus mempersenjatai diri dengan ilmu soal manual brewing supaya dapat menghasilkan kopi dengan rasa tak kalah enaknya dibanding mesin.
Serunya, ada banyak jenis alat manual brewing yang ada di pasaran.
Ketahui jenis dan dasar dari penggunaan masing-masing alat dengan menyimak uraian di bawah ini.
1. Hario V60
Alat dengan sudut kemiringan 60 derajat inilah yang melambungkan nama besar Hario sebagai perusahaan penghasil alat seduh kopi asal Jepang. Pasang filter yang telah dipanasi sebelumnya, kemudian masukkan biji kopi yang telah digiling dengan tingkat kehalusan medium-fine sebanyak 20 gr. Tuang air panas sampai membasahi semua bubuk kopi, biarkan dulu selama 10-15 detik untuk proses blooming yang dapat untuk menghilangkan karbondioksida yang muncul setelah roasting. Saat blooming, kamu akan melihat gelembung di atas bubuk kopi. Lalu silakan lanjutkan menuang air secara perlahan tanpa terputus dengan gerakan memutar.
2. Kalita Wave
Kalita Wave sekilas mirip V60. Yang membedakan adalah bentuknya trapesium dengan bagian bawah rata (flat drip) dengan tiga buah lubang. Masukkan biji kopi yang digiling dengan tingkat medium ke dalam kertas filter yang telah dipasang pada alat. Ratakan bubuk kopi, tuang air membasahi seluruh permukaan bubuk kopi, diamkan selama 10-15 detik untuk blooming. Kemudian, lanjutkan menuang air secara berkelanjutan. Biarkan dulu kopi terseduh selama 2-3 menit, kemudian siap untuk dinikmati.
3. French Press
Alat satu ini cocok untuk pemula yang tertarik untuk belajar manual brewing. Setelah melakukan pre-heat selama sekitar 2-3 menit, masukkan biji kopi yang telah digiling dalam level paling kasar (coarse) kemudian tuang air panas sebanyak 360 ml dan aduk. Pasang kepala French Press dan seduh kopi selama 4 menit sebelum menekan filter ke bawah.
4. AeroPress
AeroPress mulai diperkenalkan oleh Alan Adler pada tahun 2005 dan menjelma menjadi alat manual brewing favorit para barista. Bentuknya pun fleksibel sehingga mudah dibawa kalau kamu traveling dan tak bisa lepas dari jenis kopi tertentu. Untuk alat ini, gunakan biji kopi yang digiling medium (sedikit kasar mirip garam) sebanyak 15 gr. Basahi kertas filter terlebih dulu untuk menghilangkan residu pada kertas filter. Sebaiknya, brew chamber atau tabung tempat meletakkan kopi juga dipanasi dulu atau pre-heat dengan menyiramkan air panas. Ini pun berlaku untuk alat lain, sampai cangkir yang akan kamu gunakan. Masukan bubuk kopi ke dalam brew chamber dan tuangkan air panas sebanyak 225 ml. Aduk dan seduh selama 10 detik atau tergantung kebiasaan kamu, kemudian pasang plunger atau penutup Aeropress. Tekan plunger ke bawah sehingga kopi mulai menetes ke gelas yang ada di bawah.
5. Chemex
Chemex bisa menghasilkan 8 cangkir kopi dalam sekali seduh, sehingga cocok untuk kamu yang ingin menikmati kopi bersama dengan kawan-kawan. Tuang biji kopi yang telah digiling medium ke dalam kertas filter yang sudah dipasang pada chemex. Ratakan kopi kemudian tuang air sampai membasahi seluruh permukaan lalu diamkan 10-15 detik untuk proses blooming. Setelah itu, lanjutkan menuang air sampai habis dengan teknik pouring yang kamu sukai. Waktu sedugnya sedikit lebih lama dibanding alat lain, yaitu sekitar 4 menit.
6. Moka Pot atau Bialetti
Moka pot adalah alat manual brewing yang bisa digunakan untuk membuat espresso shot karena sistem kerjanya memanfaatkan tekanan uap air yang dihasilkan dari proses pemanasan air pada chamber bialetti. Tuang air ke dalam chamber moka pot. Tuang bubuk kopi ke dalam filter moka pot, ratakan, kemudian lakukan tamping layaknya saat membuat espresso dengan menggunakan portafilter. Pasang semua bagian moka pot dengan benar, mulai dari chamber, filter, sampai bagian penutup moka pot. Setelah itu, letakkan moka pot di atas kompor dan nyalakan api untuk mulai proses brewing yang biasanya membutuhkan 3-4 menit, namun sedikit lebih lama kalau kamu menggunakan air biasa. Secara perlahan, kopi akan naik ke atas permukaan teko pada moka pot. Saat semua air telah naik, segera matikan api untuk menghindari seduhan jadi gosong.
7. Vietnam Drip
Membuat kopi dengan alat ini membutuhkan kesabaran ekstra karena menghabiskan waktu lumayan lama, sekitar 15 menit. Sesuai namanya, alat ini digunakan untuk membuat kopi yang sering dinikmati masyarakat Vietnam, yaitu dengan dengan susu kental manis. Setelah pre-heat, masukkan kopi yang telah digiling dengan tingkat kehalusan fine, ratakan, tuang air panas, lalu letakkan penutup Vietnam Drip.
8. Syphon
Alat yang dikenal juga sebagai manual brewing vacuum pot ini memiliki desain unik dan harga yang cukup mahal. Syphon pertama kali ditemukan di Jerman pada abad ke-19. Penggunaannya agak sedikit rumit karena kamu harus sedikit merakitnya sebelum digunakan. Kamu harus memasang kail kawat di bagian bawah funnel syphon. Kemudian, tuang air ke dalam gelas bulat yang menyatu dengan stand syphon. Kamu bisa menggunakan air panas atau air biasa namun memerlukan waktu lebih lama. Nyalakan kompor kecil (mini burner) untuk memanaskan air. Pasang funnel ke dalam gelas lab dengan keadaan agak miring agar udara masih bisa masuk saat proses pemanasan air. Setelah air mulai mendidih, perbaiki posisi funnel syphon sampai lurus dan menutup chamber glass berisi air. Kamu akan melihat air mulai naik perlahan ke bagian atas funnel. Setelah semuanya naik ke permukaan funnel syphon, segera masukan bubuk kopi yang telah digiling dengan level medium-coarse. Aduk kopi agar proses ekstraksi merata, seduh selama 40 detik sambil mengecilkan api pada burner. Setelah proses seduh selesai, segera matikan burner dan kopi akan mulai tersedot ke bagian bawah chamber glass. Keren sekali melihat proses yang satu ini!
9. Rok Presso
Memerlukan tenaga ekstra saat menggunakan mesin ini, tapi sebanding karena dapat menghasilkan espresso yang tak kalah dibanding espresso dari mesin. Setelah pre-heat, tekan tuas untuk membuang air. Masukkan kopi yang telah digiling dengan tingkat kehalusan fine ke dalam portafilter, tamping, pasang portafilter pada group head rok presso dengan benar, kemudian tuang air panas ke dalam chamber yang berada di bagian atas alat. Setelah itu, lakukan ekstraksi dengan menarik tuas rok presso ke bawah. Kopi pun mulai menetes ke bawah.
Sumber: dining.grivy.com

Selasa, 13 Juni 2017

Soekarno & Secangkir Kopi

Bandung, akhir Juni 1921. Kota indah dengan benih-benih nasionalisme yang mulai bersemi. Soekarno muda tiba dari Surabaya. Datang untuk menjadi mahasiswa di Technische Hoogeschool te Bandoeng.
.

Tapi dunia pergerakan lebih menarik minat Soekarno muda daripada teori di bangku kuliah. Dengan cepat dia menjadi salah satu orator handal yang dikenal karena pidato-pidato yang membakar soal kebangsaan.

.

Di Bandung pula Soekarno menemukan gairah dan cinta pada ibu kosnya sendiri, Inggit Garnasih.

.

Cinta menemukan jalannya, Soekarno menikahi Inggit yang lebih tua 13 tahun. Saat itu Soekarno baru berusia 20 tahun sementara Inggit 33 tahun. Dengan setia Inggit mendampingi Soekarno. Rumah Inggit di Jalan Ciateul Bandung menjadi pusat pergerakan kaum nasionalis kala itu.

.

Inggit segera paham kebiasaan suaminya. Sampai-sampai dia tahu kapan harus menyediakan kopi dan panganan bagi para nasionalis muda itu. Saat debat pada puncaknya. Saat mereka mulai menggebrak meja dan seolah-olah ingin adu tinju. Maka Inggit akan muncul dengan nampan berisi gelas-gelas kopi. Perdebatan para politikus ini berhenti sesaat untuk menikmati secangkir kopi panas. Inggit pun tersenyum lega.

.

Soekarno sangat menyukai kopi tubruk yang hitam pekat. Sebuah kegembiraan jika seorang kawan yang punya uang lebih mentraktirnya minum kopi dan makan peyeum, makanan khas Bandung yang terbuat dari singkong.

.

Secangkir kopi tubruk sering menemani sang proklamator dalam menulis pidato yg membakar jiwa. Istilah Pancasila pun diperkenalkan oleh Sukarno dalam pidatonya pada tanggal 1 Juni 1945

.

Setelah Indonesia merdeka, Soekarno tetap rajin ngopi. Pada pagi hari Soekarno selalu minum kopi. Untuk makannya, hanya roti yang diolesi sedikit mentega dan gula

.

Suasana penuh canda tawa selalu terjadi di Istana setiap pagi. Tak ada batas antara Presiden dan para bawahannya. Kadang waktu minum kopi pagi ini juga dimanfaatkan Soekarno untuk berdiskusi dengan para menteri dan pejabat mendiskusikan masalah negara.

.

Selamat Hari Kelahiran Pancasila.

.

sumber : @genesiscoffee


Sabtu, 18 Juni 2016

Menggugah Perjuangan Perempuan*

Sejarah perjuangan perempuan melawan kolonialisme sangat minim diketahui oleh masyarakat Indonesia. Kebanyakan masyarakat mengenal pejuang-pejuang mereka melawan penjajah hanya dari kalangan laki-laki atau organisasi yang digerakkan oleh laki-laki semata. Padahal perempuan juga memberi andil besar mengantarkan perjuangan Indonesia menuju gerbang kemerdekaan.
Menurut Suryochondro di dalam bukunya Perkembangan Gerakan Wanita di Indonesia (2000), organisasi perempuan pertama di Indonesia adalah Poetri Mardika. Kelahiran organisasi perempuan ini tak lepas dari peran Budi Oetomo, yang memang tidak bisa dipisahkan dari gerakan nasional bahkan internasional yang memperjuangkan emansipasi, nasionalisme dan kolonialisme. Setelah itu muncullah berbagai organisasi perempuan seperti Jong Java Maniskering, Young Javanese Girls Circle, Wanita Oetomo, Aisyiah, Poetri Indonesia, Wanito Muljo, Jong Islamieten Bond dan lain-lain.
Pada masa itu, gerakan perempuan nasionalis ini bersatu membasmi ketidakadilan dari sistem kolonial sekaligus memperjuangkan hak-hak perempuan dan kesejajaran. Maka tak heran jika nama-nama pejuang perempuan besar tanah air itu dikenang dan menjadi sosok teladan untuk generasi saat ini, seperti Cut Nya Dien dan Cut Meutia dari Aceh, Martha Crhistina Tiahahu dari dari Maluku, dan Nyai Ageng Serang dari Jawa Tengah serta berbagai pejuang perempuan lainnya. Sayangnya, sejarah nasional kita kurang adil dalam menyingkap fakta perjuangan kalangan perempuan di kalangan masyarakat. Sehingga yang dipahami masyarakat hanyalah perjuangan laki-laki semata.
Perjuangan perempuan di masa kemerdekaan ini lebih sulit dari masa penjajahan. Di jaman kolonialisme, semua bahu-membahu melawan penjajah. Musuh yang dihadapi sangat nyata di depan mata, penjajah !. Akan tetapi setelah kemerdekaan, perjuangan kaum perempuan beralih kepada perjuangan kesamaan politik, hak memperoleh pendidikan dan kesempatan kerja. Akan tetapi, perjuangan-perjuangan ini harus berhadapan dengan kasus-kasus diskriminasi dan pembagian peran yang tidak adil antara laki-laki dan perempuan.
Misalkan dalam ranah politik, masih teringat jelas di benak kita bagaimana pada tahun 1999 terdapat wacana pemimpin perempuan. Akan tetapi para politisi menggunakan nalar dan argumentasi agama untuk mendelegitimasi perempuan di kancah politik. Mereka menganggap perempuan tidak berhak menjadi pemimpin. Padahala langkah itu semata-mata untuk mengganjal politik Megawati untuk menjadi Presiden. Hal ini bisa dibuktikan ketika kemudian hampir seluruh politisi tidak mempersoalkan Megawati untuk menggantikan kepemimpinan Gus Dur. Artinya, kepentingan politik juga mengarah pada diskriminasi terhadap perempuan.
Dalam ranah legislatif, memang sudah terdapat UU perihal keharusan 30% partisipasi perempuan di wakil rakyat. Akan tetapi, kuota ini sangat sulit terpenuhi. Banyak di kalangan partai politik sulit memenuhi kuota tersebut karena di satu sisi jumlah tokoh politik perempuan mungkin masih terbatas, tetapi di sisi yang lain banyak dari kalangan politisi laki-laki yang kurang bersemangat untuk memenuhi kuota tersebut. Toh jika pun ada, mereka hanya mengakomodir kalangan perempuan yang memiliki pengaruh dan masa yang besar, tanpa mempertimbangan hak-hak perempuan dengan kepemimpinan yang baik dan integritas yang teruji.
Begitu juga dalam berbagai bidang-bidang lain. Diskriminasi terhadap perempuan masih banyak terjadi, sebagaimana pemerkosaan dan bentuk-bentuk kekerasan, pelecehan seksual lainnya, perdagangan perempuan, diskriminasi di tempat kerja dan banyak kasus lainnya. Untuk itu masalah pemberdayaan perempuan atau persoalan bagaimana perempuan diletakkan dalam kehidupan bernegara sangat penting untuk terus diperjuangkan, mengingat masih banyak persoalan tentang perempuan belum bisa diatasi.
Perempuan sebagaimana juga laki-laki merupakan warga negara dengan hak-hak kewarganegaraan yang sama. Oleh karena itu, tidak boleh ada diskriminalisasi hanya karena perbedaan jenis kelamin, sebagaimana juga tidak dibenarkan diskriminasi terhadap perbedaan agama, suku, bahasa, kelas ekonomi, ras, dan lain-lain, karena hal ini bertentangan dengan prinsip-prinsip demokrasi dan hak asasi manusia secra universal.
Perjuangan tersebut harus diletakkan dalam keadilan sosial yang lebih luas, yakni membebaskan manusia dari berbagai bentuk diskriminasi. Permasalahan dan diskriminasi terhadap perempuan saat ini bukan hanya permasalahan yang harus diperjuangkann oleh perempuan semata, tetapi ini menjadi permasalahan bersama, baik laki-laki maupun perempuan. Masyarakat yang berkeadilan gender tidak hanya akan menguntungkan perempuan, tetapi juga laki-laki, karena majunya perempuan akan memberi dampak kemajuan bagi seluruh masyarakat, baik laki-laki maupun perempuan.
Apatisme Mahasiswi
Sayangnya, berbagai persoalan ini justru tidak mendapatkan kesadaran serius di kalangan perempuan sendiri. Harus diakui, sikap apatisme mahasiswi terhadap politik, pendidikan, budaya dan sosial kemasyarakatan masih menjadi penyakit yang akut. Sebagai kader intelektual perempuan, banyak kalangan mahasiswi yang acuh terhadap kondisi bangsa dan negara serta lingkungan sekitar. Sikap rendah diri, masa bodoh, dan penakut merupakan suatu bentuk tindakan yang masih membayangi mahasiswi. Sikap itu tidak seharusnya ada pada diri setiap perempuan. Sifat-sifat kerendahan itu harus dilenyapkan. Atas dasar tanggung jawab terhadap bangsa dan agama, maka partisipasi perempuan di dalam ranah publik merupakan sebuah kemutlakan.
Perempuan mempunyai hak-hak dalam kehidupan meliputi segala aspek kehidupan baik dalam ranah politik, sosial, ekonomi, maupun kebudayaan. Hak-hak ini merupakan tuntutan nurani yang mendorong manusia untuk berkeinginan, berkehendak dan berbuat sebagai realisasi dan manifestasi ajaran-ajaran Islam. Naifnya, mahasiswi saat ini justru memilih untuk menghabiskan waktu pada hal-hal yang tidak bermanfaat. Mereka sibuk dengan gadget, tren sosial, penampilan ataupun gaya hidup yang semakin tinggi. Ujungnya, hanya mengahasilkan konsumerisme, hedonisme dan apatisme sosial. Jangankan melanjutkan perjuangan perempuan, mengetahui dan memahami saja tidak pernah, apalagi peka terhadap politik, ekonomi, dan sosial.
Harus pula dipahami, masih sangat minim usaha-usaha konkrit mahasiswi ke dalam partisipasi publik yang meliputi bidang-bidang organisasi, administrasi, latihan-latihan kepemimpinan, pendidikan dan pengajaran, kebudayaan, dakwah maupun dalam berbagai bentuk sosial kemasyarakatan lain. Padahal hal ini menyangkut peri hidup perempuan dalam hubungannya dengan pengabdian terhadap masyarakat. Adapun pengabdian merupakan salah satu dari bagian Tri Dharma perguruan tinggi. Jika pengabdian diiringi dengan niat yang ikhlas dan sebuah bentuk ketaatan terhadap perintah Tuhan, maka akan melahirkan sebuah amal ibadah mulia.
Sebagai mahasiswi dan anggota masyarakat, perempuan harus berpartisipasi dalam ranah politik, ekonomi, kebudayaan maupun kehidupan sosial masyarakat. Karena itu semua merupakan manifesto antara ilmu dan amal, antara teori dan perbuatan. Sebuah bentuk konkrit penyatuan antar kata dan tindakan kepada masyarakat selagi tidak bertentangan dengan nilai-nilai ajaran agama. Dikotomi antar mahasiswi dan sosial masyarakat mutlak harus ditolak.

*(Syarifaeni Fahdiah ; Ketua Umum Kohati Cabang Ciputat)

Kamis, 16 Juni 2016

Ajari Aku Tuhan

Banyak cara Tuhan untuk mengasihi kita sebagai umatnya. dengan memberikan kita kecukupan, memberikan kita kekurangan, memberikan kita arti kehidupan serta memberikan kita rasa cinta.

ya....

Terkadang kita yang terlalu egois dengan diri kita sendiri. Egois dengan apa kehendak kita yang harus terpenuhi, egois dengan semua keinginan yang tak ada habisnya, sampai sampai kita lupa bahwa semua yang telah kita miliki saat ini adalah dari-NYA.

Tuhan memberikan kita rasa kasih, agar kita selalu mengingat-Nya. Tuhan memberikan kita kecukupan agar kita selalu bersyukur kepada-Nya, dan Tuhan memberikan kita rasa Cinta agar kita senantiasa mencintai-Nya.

Banyak cara kita untuk mencintai-Nya, mungkin dengan bersyukur, mungkin dengan menjalankan perintah-Nya, atau mungkin juga dengan Mencintai serta mengagumi ciptaan-Nya.

Banyak dari kita yang lupa bahwa Cinta sejati itu adalah milik-Nya, Cinta yang Haqiqi itu hanyalah kepada-Nya. Semua yang kita Cintai haruslah di dasari oleh kecintaan kita kepada-Nya.

Begitu juga dengan Rasa Cinta kita kepada manusia, Cinta yang harus didasari oleh Kecintaan kita kepada-Nya, tetapi mungkin dalam setiap rasa cinta itu, ada sisi-sisi kemanusiaan seorang manusia yang jauh dari kata sempurna.

Yang harus selalu kita yakini bahwa Cinta itu akan sempurna bila rasa cinta kita kepada manusia, selalu didasari oleh Kecintaan kepada-Nya.

Tuhan..
ajari aku untuk selalu Istiqomah dijalan-Mu, Ingatkan aku ketika aku telah jauh dari jalan-mu, dan bimbinglah aku untuk selalu mencintai ciptaan-mu karena Rasa cintaku Pada-Mu.
~V

Kamis, 19 November 2015

Surat Untuk Ibu

Dimana aku bersandung tentang dukamu
Inilah laguku untukmu ibu
Sekedar pengharapanku agar kau tahu
Setulus kewajibanku sebagai seorang anak
Membingkai kenangan kita
Butiran-butiran kenangan perjalanan waktu
Waktu yang selalu kuingat dalam sentuhan wejanganmu
Diujung pintu rumah ku berlalu
Menahan pilu tentang kehilangan dirimu
Tapi jalan hidup adalah nuansa
Nuansa yang ingin kujawab dengan kebenaran yang sempurna
Ber-antah logika yang harus kuterima
Logika dari fakta konsekuensi ujung hati yang ingin bicara
Tentang fakta, tentang realita yang kutemukan bersama cinta empunya Syurga
Bahasa kasih sayang dari keharuman Madinah
Di setiap pertarungan sisi hati yang ingin menyapa hidayah
Hidayah dari sebuah permata
Yang membakar batas peradaban dunia

Sudahkah kau mau mengerti ? Tentang Ikhlasnya hatiku
Tentang Alloh dan kebenaranNya sentuhi ruang hatiku
Ku tak pernah bermaksud menyakitimu (ibu).
Tapi inilah jalan hidupku yang kupilih tanpa paksaan
Nurani yang memanggil jiwaku …

Salahkah aku bertanya tentang Trinitas
Atau tentang Tuhan yang kecewa kepada pohon Ara
Atau legenda sang Rasul pembohong di Antiokia
Lalu siapakah Lord dan pornografi incest dalam cerita Kejadian ?
Dan nabi seperti apakah yang telanjang di depan budak perempuan para hambanya
Seperti Apsalon yang menzinai gundik ayahnya, di depan mata seluruh Israel
Skematis rasis di pintu Samaria
Dan perempuan Kana’an yang teraskan anjing pramuria
Beri celah antara kerancuan dan kitab tercabul melebur zina
Bagi Tuhan yang bahkan masih bisa tertidur dan menangis ketakutan
Bacakanlah doktrin itu Ibu, Dogma tritunggal yang membohongi fakta
Hingga misteri laki-laki yang bersinar dari pegunungan Paran
Generasi cahaya Robbani dari revolusi suku Edar
Dan mimpi Yesaya atas kedatangan pasukan onta
Maka aku bersaksi Ibu, Diatas ketulusan hati ini
~ Bahwa tiada Tuhan selain Alloh, dan nabi Muhammad itu utusan Alloh ~

By : Thufail Al-Ghiffari

Sabtu, 07 November 2015

Rintik Hujan dan Secangkir Kopi Kehidupan.

Ciputat, 7 November 2015

Hari ini Ciputat akhirnya kembali merasakan sejuknya tetesan air hujan.
Rintik rintik hujan itu seakan mengisyaratkan bahwa Tuhan masih memberikan kasih sayangnya untuk kota kecil ini.

Ketika menyoal tentang hujan, terbesit di fikiranku ini tentang sebuah cerita, cerita yang akan mengajarkan kita tentang hidup, tentang hidup di dalam kehidupan, tentang menghidupi kehidupan dan tentang kehidupan itu sendiri.

Hidup tak selalu terasa manis, terkadang ada saatnya dimana engkau harus menikmati pahitnya hidup itu sendiri, Karena Seorang penyair pernah berkata, Setidaknya kita bisa belajar makna hidup dari secangkir Kopi, ada pahit dan manis bercampur menjadi satu yang membuatnya menjadi sempurna.

Sebenarnya banyak makna dari hal-hal kecil yang sering terlewatkan oleh kita,
Tetapi yang terpenting adalah bagaimana kita menyadari bahwa kasih sayang Tuhan akan selalu ada untuk kita, entah itu dari rintik hujan, ataupun secangkir kopi kehidupan.

Senin, 21 September 2015

SELAMAT ULANG TAHUN HMI KAFEIS

22 september 2008 - 22 september 2015

Selamat Ulang Tahun Kafeisku..

7 tahun sudah komisariat ini berdiri, selama itu pula kita telah melewati suka duka, pahit manis di rumah kecil penuh makna ini.

7 tahun sudah Kafeis terus menjalankan roda perkaderan di FEB UIN JKT khususnya. 7 tahun bukanlah waktu yang singkat, meskipun tergolong komisariat yang masih seumur jagung di Cabang Ciputat, tetapi Kafeis mampu untuk bertahan, melahirkan kader-kader yang cinta seutuhnya kepada HMI.

Selamat ulang tahun Kafeis..

Do'a ku semoga 7 tahun yang telah dilalui ini menjadi pembelajaran bagi kita semua, agar kita tetap bisa menjaga nama baik Kafeis, agar kami tetap bisa menjadi Harapan negeri ini, dan agar kami tetap bisa melanjutkan cita-cita Para pendahulu kami untuk menjadi Insan yang diridhoi Allah SWT.
Yakin Usaha Sampai!!

Selamat Ulang Tahun Kafeis...

Selasa, 15 September 2015

SKENARIO KEHIDUPAN

Skenario Kehidupan

Terkadang, ketika kita dihadapkan kepada suatu hal yang mengharuskan kita memilih, Kita cenderung akan memilih mana yang terbaik bagi diri kita. Sebenarnya tidak ada yang salah dalam hal ini, hanya saja terkadang kita lupa bahwa yang terbaik bagi kita itu belum tentu terbaik bagi orang lain.

Dalam hidup, tidak jarang kita menemukan hal-hal yang membuat kita terkekang, terbebani dan bahkan menjadikan kita seperti tidak mempuyai pilihan. Tetapi hal ini yang nantinya akan menjadi sebuah jembatan bagi kita untuk menilai seberapa dewasakah diri kita.

Berbicara soal kedewasaan, itu tidak dapat kita ukur dari berapa tuakah umur kita, tetapi kedewasaan yang sesungguhnya akan didapat melalui pengalaman hidup yang kita jalani.
Banyak orang yang berkata bahwa hidup ini hanyalah sebuah panggung dimana kita melakukan sebuah peran yang mengharuskan kita mengikuti sebuah skenario yang telah ada. Skenario yang telah diciptakan untuk membawa kita mencapai akhir dari adegan di dalam panggung kehidupan ini.

Bagiku hidup ini memang sebuah scenario Tuhan, tetapi tidak semua dari scenario yang ada serta merta harus kita ikuti alurnya. Adakalanya scenario ini harus kita koreksi agar dapat menciptakan sebuah jalan cerita yang lebih menarik, dan pastinya dengan akhir cerita yang bahagia.
Berbicara soal kehidupan, manusia dalam kehidupannya memiliki jalan sendiri-sendiri untuk melakukan scenario hidupnya.

Untuk menjalaknan scenario tersebut, manusia tidak bisa terlepas dari scenario hidup orang lain disekitarnya.
Kunci untuk menjalankan scenario ini adalah dengan dengan mencoba memahami scenario hidup orang lain agar kita tahu dimana akan terjadi cerita yang sama dan bagian mana yang akan menjadi klimaks dari cerita yang akan kita jalani.

Cerita-cerita yang kita ciptakan dalam hidup ini nantinya akan menjadi sebuah film yang akan ditonton oleh orang lain ketika kita telah menyelesaikan scenario yang ada. Bagus atau tidaknya film yang telah kita ciptakan ini nantinya menjadi penilaian oleh orang-orang yang akan menontonnya.

Jadi, marilah kita jalankan scenario yang telah diciptakan oleh Tuhan. kita sunting bagian mana yang sekiranya perlu kita rubah dalam scenario tersebut., kita ciptakan sebuah film yang menarik dan memiliki cerita yang terbaik. Agar orang orang yang akan menonton film yang kita ciptakan ini dapat mengerti, dan mereka tahu bahwa film yang telah kita ciptakan itu adalah film terbaik bagi kita.

Ciputat, 16 september 2015

Rabu, 01 April 2015

Proses menuju Kedewasaan

Dalam hidup, tak jarang kita menemui kendala-kendala serta masalah yang seakan-akan membuat kita tak ingin lagi hidup di duina ini. Tetapi jika kita fikir dengan fikiran yang jernih, kendala dan masalah itulah sebenarnya yang akan membuat kita semakin Dewasa di dalam hidup ini.
Menjadi seorang pemimpin tidaklah mudah, adakalanya kita dihadapkan dalam posisi yang sangat pelik, antara harus mengorbankan satu hal demi terwujudnya hal lain, sala satunya adalah WAKTU.
Ya.. Waktu kita untuk menikmati hidup seperti orang lain akan tersita demi sebuah tugas keumatan. Ini hanya salah satu dari sekian ribu contoh apa yang harus dikorbankan oleh seorang pemimpin. Tetapi ingatlah.... Semua itu tak akan sia-sia, karna dibalik itu semua Allah SWT pasti telah mempersiapkan sebuah jalan untuk kita, jalan untuk menjadi orang besar, jalan untuk menemukan makna hidup yang sebenarnya, dan pastinya adalah jalan untuk menuju kepada-NYA. #RefleksiSeorangKader

Minggu, 15 Februari 2015

Tan Malaka Mendebat Bung Karno

Tan Malaka menginjakkan kakinya kembali di tanah air setelah Belanda menyerah kepada Jepang pada 1942. Meski sudah berada di tanah air, Tan tetap menggunakan nama samaran guna menghindari intel Jepang dan negara imperialis.

Salah satu tempat yang sempat ditinggali Tan Malaka saat awal-awal kedatangannya kembali ke tanah air adalah Bayah, Banten. Tan tiba di kota itu Juni 1943. Saat itu Tan harus bekerja karena uang di kantongnya telah menipis.

Sementara untuk meminta bantuan kepada kaum pergerakan kemerdekaan saat itu Tan belum berani. Sebab, begitu lamanya dia berada di luar negeri sebagai orang buangan membuatnya ‘buta’ pada peta perpolitikan dan pergerakan di tanah air. Tan tak tahu yang mana teman dan mana lawan yang berkoloni dengan Jepang.

Di Bayah, Banten, Tan bekerja di bagian administrasi sebagai juru tulis para romusha. Di kemudian hari Tan diangkat menjadi kepala. Selain bekerja, Tan juga memberi berbagai pendidikan kepada para romusha di kota itu. Dalam hatinya, Tan sedih atas nasib yang menimpa saudara sebangsanya itu.

Karenanya romusha Bayah, Banten, menjadi salah satu kisah yang tak terlupakan bagi Tan. Bayah juga menjadi tempat pertemuan Tan Malaka dengan Soekarno untuk kali pertama. Namun saat itu Bung Karno tak mengetahui orang itu adalah Tan Malaka tokoh yang pemikirannya banyak menjadi inspirasinya. Sebab, saat itu Tan menyamar dengan nama Ilyas Hussein.

Saat itu lokasi tempat kerja Tan Malaka mendapat kehormatan untuk dikunjungi oleh dua pemimpin besar yang saat itu namanya tengah bersinar dalam perjuangan rakyat Indonesia yakni Soekarno dan Moh Hatta. Berbagai persiapan pun dilakukan untuk menyambut keduanya.

Saat itu Tan mendapat tugas untuk menyambut Bung Karno dan Hatta di pintu gerbang dan mengantarkan ke ruang pertemuan. Tan juga ditugasi untuk membawakan makanan dan minuman kepada keduanya.

Dalam biografinya ‘Dari Penjara ke Penjara’ Tan Malaka awalnya gembira bisa bertemu dengan Bung Karno dan Hatta. Sampai-sampai ia dipinjami temannya kemeja dan dasi karena pakaian yang dimilikinya penuh dengan tambalan dan dirasa kurang layak untuk digunakan bertemu dua tokoh itu.

Setelah sampai di ruang pertemuan, Bung Karno dan Bung Hatta lantas menyampaikan pidatonya masing-masing. Namun, pidato itu rupanya tak memuaskan hati Tan Malaka.

“Pidato itu tak berapa bedanya dengan berlusin-lusin yang diucapkannya di rapat raksasa dan radio… Sari isinya ialah cocok dengan kehendak Jepang penjajah: ‘Kita mesti berbakti dulu kepada Jepang, saudara tua, yang sekarang berperang mati-matian menantang Sekutu yang jahanam itu. Setelah Sekutu kalah maka kita oleh ‘saudara tua’ akan diberi kemerdekaan…” kata Tan Malaka.

Usai keduanya berpidato, sang moderator Sukarjo Wiryopranoto, lantas membuka sesi tanya jawab. Peserta pertemuan diberi kesempatan untuk bertanya kepada Bung Karno dan Bung Hatta. Namun, pertanyaan dari beberapa peserta malah tak mendapat jawaban serius. Bahkan sang moderator sempat beberapa kali mengejek pertanyaan yang dilontarkan oleh para pekerja.

Tak terima atas hal itu, Tan Malaka yang saat itu tengah membawa makanan tiba-tiba langsung meletakkan nampan wadah untuk makanan. Dari posisi paling belakang peserta, Tan langsung mengajukan pertanyaan kepada Bung Karno.

“Kalau saya tiada salah bahwa kemenangan terakhir akan menjamin kemerdekaan Indonesia. Artinya itu kemenangan terakhir dahulu dan di belakangnya baru kemerdekaan Indonesia? Apakah tiada lebih cepat bahwa kemerdekaan Indonesia-lah kelak yang lebih menjamin kemenangan terakhir,” tanya Tan yang saat itu dikenal sebagai Ilyas Hussein.

Dengan sikap yang tak begitu mempedulikan, Bung Karno lantas berdiri dan memberi jawaban. Saat itu Bung Karno menjawab jika Indonesia diberikan kemerdekaan saat itu juga oleh Jepang, nantinya Indonesia akan terpaksa juga memperjuangkan kemerdekaan itu.

“Buktikanlah jasa kita lebih dahulu! Berhubung dengan banyaknya jasa kita itulah kelak Dai Nippon akan memberikan kemerdekaan kepada kita,” demikian jawaban Bung Karno.

Merasa tak sehaluan dengan pemikiran Bung Karno soal kemerdekaan, Tan Malaka lantas kembali berbicara. Tan sadar perlunya perjuangan meski misalnya saat itu juga Indonesia telah merdeka. Namun, perjuangan kemerdekaan akan lebih semangat dilakukan jika bukan didasarkan atas janji pemberian pihak lain, melainkan atas usaha sendiri.

Menurut Tan Malaka semangat untuk membela naik dengan adanya hak nyata yang sudah ada di tangan. Dengan ditetapkannya hari kemerdekaan Indonesia maka rakyat Indonesia akan berjuang mati-matian untuk membela dan mempertahankannya.

Usai Tan berhenti bicara, Bung Karno langsung berdiri sambil merapikan pakaian dan melihat kanan kiri. Seakan ingin menunjukkan siapa dirinya, Bung Karno lantas dengan lantang memberikan sebuah pernyataan yang intinya tetap pada pendiriannya.

“Kalau Dai Nippon sekarang juga memberikan kemerdekaan kepada saya, maka saya (Soekarno) tiada akan terima,” kata Bung Karno.

Tak puas dengan jawaban Bung Karno, Tan Malaka pun hendak kembali melontarkan pendapatnya. Namun keinginannya itu tak bisa terlaksana. Seorang pengawas pekerja melarangnya untuk kembali berbicara.

“Saya terpaksa tidak mengizinkan lagi tuan Hussein (Tan Malaka) untuk berbicara,” kata pengawas itu.

Perbedaan pemikiran antara Tan Malaka dengan Bung Karno itu kemudian berlanjut hingga setelah proklamasi kemerdekaan. Namun saat itu Tan Malaka sudah membuka identitasnya. Bung Karno kukuh dengan pendiriannya untuk melakukan perundingan dengan Belanda, sementara Tan Malaka tak setuju. Tan memiliki prinsip kemerdekaan harus diraih 100 persen.

Perundingan hanya bisa dilakukan jika Belanda dan sekutunya mengakui kemerdekaan Indonesia 100 persen dan menarik pasukannya dari wilayah Indonesia. Jika hal itu tak terjadi, kemerdekaan dapat diraih dengan cara perang dengan strategi gerilya.

(Sumber: Merdeka.com)

Rabu, 04 Februari 2015

Selamat Ulang Tahun Himpunanku

68 tahun yang lalu, dimana Kakanda Lafran Pane beserta kawan-kawannya menuangkan gagasan-gagasan serta ide-ide mereka sehingga sampai detik ini kita masih bisa merasakan betapa hangatnya Himpunan yang mereka lahirkan ini. 68 Tahun sudah Himpunan ini melewati berbagai zaman, mencoba tetap bertahan dalam dinamika-dinamika yang terjadi. Tak jarang Himpunanku ini menuai kritik dan celaan serta caci maki, tetapi dengan Bersyukur dan Ikhlas serta Berdo'a dan Ikrar Himpunanku ini mampu menjawab caci makian itu semua.

Sering kali aku mendengar sebuah kalimat "Jangan pikirkan apa yang bisa HMI berikan kepadamu, tetapi pikirkan apa yang kamu bisa berikan untuk HMI". Ternyata benar, HMI ku ini hanyalah sebuah lambang yang tidak bisa bergerak,kaku dan mati. Tetapi Karena perjuangan dan semangat kader-kadernyalah Himpunan ini masih tetap bertahan sampai detik ini.

Selamat ulang tahun Himpunanku, Do'a ku semoga 68 tahun yang telah dilalui ini menjadi pembelajaran bagi kami semua, agar kami tetap bisa menjaga nama baikmu, agar kami tetap bisa menjadi Harapan negeri ini, dan agar kami tetap bisa melanjutkan cita-cita Para pendahulu kami untuk menjadi Insan yang diridhoi Allah SWT.
Yakin Usaha Sampai!!

Selamat Ulang Tahun Himpunanku

Selasa, 22 April 2014

AMBIVALENSI KEMAJUAN ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI

AMBIVALENSI KEMAJUAN ILMU PENGETAHUAN
DAN TEKNOLOGI
Oleh
Jumadi*
    
  Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) telah banyak mendominasi kehidupan manusia, termasuk interaksinya dengan alam sekitar dan sesamanya. Kemajuan Iptek banyak dijadikan sebagai tolak ukur menilai maju-tidaknya peradaban umat manusia di berbagai belahan dunia. Tidak mengherankan kalau akhirnya ilmu pengetahuan dan teknologi diagung-agungkan, dan setiap bangsa berlomba untuk memilikinnya. Tapi pertanyaan yang muncul adalah: Apakah Iptek merupakan pilihan satu-satunya bagi pengembangan peradaban manusia, bagi pemenuhan kebutuhannya dan untuk menjawab semua permasalahan yang dihadapinya? Dan apakah Iptek sama sekali tidak membawa serta sisi-sisi negative bagi manusia dan kehidupan pada umumnya? Dari kenyataan yang terjadi hingga sekarang ini, semakin disadari bahwa kemajuan yang semakin pesat dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, selain membawa manfaat besar bagi kehidupannya, juga membawa serta didalamnya masalah-masalah etis yang  serius. Itulah ambivalensi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Ambivalensi Kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi.
1. Optimisme Kemajuan Ilmu
     Tidak dapat disangkal bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi telah banyak membawa kemudahan dalam kehidupan manusia. Ada cukup banyak hal yang sebelumnya tidak terbayangkan, sekarang menjadi kenyataan. Hal ini terjadi di banyak bidang kehidupan, seperti misalnya di bidang transportasi dan komunikasi, yang kini sangat memudahkan setiap orang untuk pergi atau melakukan komunikasi kepada banyak orang. Di bidang pelayanan kesehatan terjadi kemajuan sangat pesat, yang telah membuat hidup bisa lebih berkualitas dan meningkatkan umur harapan hidup. Hal yang utama bertambah dengan kemungkinan-kemungkinan ilmu pengetahuan dan teknologi adalah kemampuan manusia itu sendiri. Filsuf Inggris, Francis Bacon (1561-1623) sudah menyadari aspek penting ini dengan menekankan bahwa knowledge is power. Dan filsuf Perancis, Rene Descartes (1596-1650) menuliskan sebuah keyakinannya di bagian akhir salah sau bukunya, bahwa umat manusia bisa menjadi “penguasa dan pemilik alam”. Kepercayaan akan kemajuan ilmu pengetahuan menjadi sangat kentara dalam pemikiran filsuf Perancis, August Comte (1798-1857), yang memandang zaman ilmiah- yang disebutnya “zaman positip”- sebagai puncak dan titik akhir eseluruh sejarah. 

LUNTURNYA MAKNA BHINEKA TUNGGAL IKA BAGI MASYARAKAT INDONESIA


Oleh: Muhammad Editya Perdana*
1. Pengertian dan Sejarah
Bhinneka Tunggal Ika adalah motto atau semboyan Indonesia.Frasa ini berasal dari bahasa Jawa Kuna dan seringkali diterjemahkan dengan kalimat “Berbeda-beda tetapi tetap satu”. Diterjemahkan per patah kata, kata bhinneka berarti "beraneka ragam" atau berbeda-beda. Kata neka berarti "macam" dan menjadi pembentuk kata "aneka" dalam Bahasa Indonesia. Kata tunggal berarti "satu".Kata ika berarti "itu". Dan secara harfiah Bhinneka Tunggal Ika diterjemahkan "Beraneka Satu Itu", yang bermakna meskipun berbeda-beda tetapi pada hakikatnya bangsa Indonesia tetap adalah satu kesatuan.Semboyan ini digunakan untuk menggambarkan persatuan dan kesatuan Bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang terdiri atas beraneka ragam budaya, bahasa daerah, ras, suku bangsa, agama dan kepercayaan. Bhineka tunggal ika merupakan kutipan dari sebuah kakawin Jawa Kuna yaitu kakawin Sutasoma, karangan Mpu Tantular semasa kerajaan Majapahit sekitar abad ke-14.
Munandar (2004:24) dalam Tjahjopurnomo S.J. mengungkapkan bahwa sumpah palapa secara esensial, isinya mengandung makna tentang upaya untuk mempersatukan Nusantara. Kemudian dilanjutkan dengan adanya Sumpah Pemuda yang tidak kalah penting dalam sejarah perkembangan pembentukan Jati Diri Bangsa ini. Sumpah Pemuda secara historis merupakan rangkaian kesinambungan dari Sumpah Palapa yang terkenal itu, karena pada intinya berkenaan dengan persatuan, dan hal ini disadari oleh para pemuda yang mengucapkan ikrar tersebut, setelah Sumpah Palapa.Para pemuda pada waktu itu dengan tidak memperhatikan latar kesukuannya dan budaya sukunya berkemauan dan berkesungguhan hati merasa memiliki bangsa yang satu, bangsa Indonesia.Ini menandakan bukti tentang kearifan para pemuda pada waktu itu.Dengan dikumandangkannya Sumpah Pemuda, maka sudah tidak ada lagi ide kesukuan atau ide kepulauan, atau ide propinsialisme atau ide federaslisme.Daerah-daerah adalah bagian yang tidak bisa dipisah-pisahkan dari satu tubuh, yaitu tanah Air Indonesia, bangsa Indonesia, dan bahasa Indonesia.Sumpah Pemuda adalah ide kebangsaan Indonesia yang bulat dan bersatu,
Pada saat kemerdekaan diproklamirkan, 17 Agustus 1945 yang didengungkan oleh Soekarno-Hatta, kebutuhan akan kesatuan dan persatuan bangsa Indonesia tampil mengemuka dengan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 sebagai dasar Negara RI. Sejak waktu itu, Sumpah Palapa dirasakan eksistensi dan perananya untuk menjaga kesinambungan sejarah bangsa Indonesia yang utuh dan menyeluruh. Seandainya tidak ada Sumpah Palapa, NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) akan dikoyak-koyak sendiri oleh suku-suku bangsa Nusantara yang merasa dirinya bisa memisahkan diri dengan pemahaman federalisme dan kedaerahan yang berlebihan. Gagasan-gagasan memisahkan diri sungguh merupakan gagasan dari orang-orang yang tidak tahu diri dan tidak mengerti sejarah bangsanya, bahkan tidak tahu tentang “jantraning alam” (putaran zaman) Indonesia.

MEMBAKAR KEMBALI SEMANGAT SUMPAH PEMUDA

MEMBAKAR KEMBALI SEMANGAT SUMPAH PEMUDA
Oleh
ADAM DWI CITALAKSANA*

Semenjak lahirnya Budi Utomo pada awal abad ke-20 atau lebih tepatnya pada tanggal 20 mei 1908 dan kemudian dijadikan menjadi hari lahirnya kebangkitan nasional, kelahiran Budi Utomo ini memberikan dampak yang baik dan direspon oleh pemuda Indonesia dengan munculnya organisai-organisasi kepemudaan dan himpunan pemuda maka semenjak itulah pemuda yang mayoritas dari kalangan mahasiswa sadar bahwasannya berperang melawan penjajah tidak lagi harus menggunakan senjata melainkan dengan menggunakan akal, pikiran, tekad niat dan juga persatuan.
            Ketika itu pula pemuda sadar bahwa sifat kedaerahan yang selama ini masih tertanam di benak mereka akan menghambat cita-cita yang hendak mereka capai. Begitu juga dengan sifat ketergantungan kepada pemimpin akan menjadi kendala bagi mereka untuk meraih kemerdekaan. Atas dasar inilah yang melatarbelakangi diselenggarakannya kongres pemuda.
Pada tanggal 28 Oktober 1928 malam, di Indonesische Clubgebouw yang penuh sesak, ribuan pemuda mendengar pidato penutupan Kongres Pemuda Indonesia ke-dua dan sekaligus mendengar lantunan lagu “Indonesia Raya” dari biola WR. Soepratman.
Menjelang penutupan, Muhammad Yamin, yang saat itu berusia 25 tahun, mengedarkan secarik kertas kepada pimpinan rapat, Soegondo Djojopoespito, lalu diedarkan kepada para peserta rapat yang lain. Siapa sangka, dari tulisan tinta Yamin di secarik kertas itulah tercetus gagasan Sumpah Pemuda.
Sumpah itu lalu dibaca oleh oleh Soegondo, lalu Yamin memberi penjelasan panjang lebar tentang isi rumusannya itu. Pada awalnya, rumusan singkat Yamin itu dinamakan “ikrar pemuda”, lalu diubah oleh Yamin sendiri menjadi “Sumpah Pemuda”. Berikut isi Sumpah Pemuda itu:
¨ Kami putera dan puteri Indonesia mengaku bertumpah darah yang satu, Tanah Indonesia
¨ Kami putera dan puteri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, Bangsa Indonesia
¨ Kami putera dan puteri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia

SEPAKBOLA SEBAGAI MEDIA PEMERSATU BANGSA

        SEPAKBOLA SEBAGAI MEDIA PEMERSATU BANGSA
Oleh
Irwan Sofyan Siregar*


   Cikal bakal rasa nasionalisme bangsa yang besar dengan beragamnya suku bangsa yang tersebar dari Sabang sampai Merauke pernah digunakan sebagai alat perjuangan bagi pemersatu bangsa. Begitu juga dengan olahraga yang telah mempersatukan bangsa begitu jua yang telah membuat permusuhan.
           Olahraga telah dikenal oleh banyak orang dari zaman dulu sampai sekarang sehingga olahraga ketenarannya tetap terjaga. Begitu banyaknya sesuatu yang dilakukan untuk pemersatuan bangsa lewat olahraga seperti olympiade, pon, asian games dll. Begitu Banyak juga kegiatan, organisasi yang berdiri karena olahraga ini dan berbagai club olahraga. Misalnya sesuatu yang dilakukan Baron Piere de Fredi Coubertin warga Perancis, dia menghidupkan kembali olympiade dengan tujuan pemersatuan bangsa di seluruh dunia.
Disisi lain Indonesia juga melakukan sesuatu perhimpunan, kegiatan untuk pemersatuan bangsa. Salah satunya tengok saja sejarah panjang lahirnya tiga organisasi tertua di Tanah Air yaitu perkumpulan olahraga Indonesia Moeda, PSSI, dan Pelti yang telah hadir di bumi persada ini sebelum dan sesudah lahirnya Boedi Utomo tahun 1908 meski awalnya kehadiran mereka masih bersifat kesukuan. Dan Itu fakta sejarah yang ada yaitu mereka yang masih bersifat individual. Tetapi itu tidak masalah karena tujuannya memang untuk mempersatukan bangsa.
Tiga tahun seusai dwitunggal kita Soekarno-Hatta memproklamirkan kemerdekaan 17-8-1945, lahir Pekan Olahraga Nasional Pertama (1948) yang tujuannya tidak lain adalah memperkuat dan mempererat lagi rasa kesatuan dan persatuan bangsa.
 Kepedulian terhadap sejarah perjuangan bangsa ini menghasilkan era keemasannya olahraga kepemimpinan Bung Karno sebagai presiden pertama yang tidak pernah lupa atau kabur dengan sejarah perjuangan bangsa ini berhasil mengangkat prestise bangsa maupun prestasi atletnya. Tetapi di mana posisi prestasi olahraga kita saat ini. Jangan lagi kita bicara tingkat Asia, di tingkat Asia Tenggara saja kita bahkan sudah tertinggal jauh dari Thailand dan Malaysia, bahkan mulai terkejar oleh negara yang baru usai perang saudara berkepanjangan,
Olahraga pada umumnya dan Sepakbola pada khususnya, sebenarnya merupakan wahana yang tepat sebagai alat pemersatu bangsa ini, yang akhir2 ini semakin diwarnai pesimisme. ketika banyak diwarnai kekerasan, kecurigaan, dan sarat kepentingan berbagai pihak dan golongan.

FILSAFAT ILMU EKONOMI

FILSAFAT ILMU EKONOMI
Oleh : Muhammad Adam*
Part 1
Kegelisahan itu sempat timbul ketika banyak Anak-anak himpunan yang hanya mengaitkan ilmu filsafat dengan membahas mengenai adanya Tuhan, sementara pemahaman mengenai filsafat sendiri yaitu membahas mengenai seluruh fenomena kehidupan & pemikiran Manusia secara kritis serta di jabarkan dalam konsep mendasar, sehingga sayapun berfikir mengapa tidak lebih memperkenalkan  filsafat di dalam ilmu Ekonomi  yang lebih sesuai dengan bidang keilmuan anak-anak himpunan fakultas Ekonomi dan bisnis. Sehingga sayapun mencoba sedikit berbagi mengenai filsafat ilmu ekonomi kepada mereka yang seharusnya tahu.
Disini kita akan membahas dimulai dari pemahaman filsafat ilmu itu sendiri, dimana filsafat ilmu  merupakan bagian dari filsafat yang menjawab beberapa pertanyaan mengenai Hakikat ilmu. Ini merupakan bidang yang yang membahas mengenai dasar-dasar Filsafat, Asumsi dan implikasi dari ilmu yang termasuk di dalamnya antara lain ilmu alam dan ilmu social, filsafat ilmu memiliki kaitan yang sangat erat terhadap epistemologi dan ontologi, ilmu berusaha menjelaskan tentang apa dan bagaimana alam sebenarnya dan bagaimana teori ilmu pengetahuan dapat menjelaskan  fenomena yang terjadi di alam. Untuk tujuan ini, ilmu menggunakan bukti dari eksperimen, deduksi logis, serta pemikiran rasional untuk mengamati alam dan individu di dalam suatu masyarakat.
Salahsatu konsep mendasar mengenai filsafat ilmu yaitu empirisme, atau ketergantungan terhadap bukti. Empirisme adalah cara pandang bahwa ilmu pengetahuan diturunkan dari pengalaman yang kita alami selama hidup, disini pernyataan ilmiah berate harus berdasarkan dari pengamatan dan pengalaman. Hipotesa ilmiah dikembangkan dan diuji dengan metode empiris, melalui berbagai pengamatan dan eksperimentasi.yang kemudian setelah pengamatan dan eksperimentasi ini dapat selalu diulang dan mendapat hasil yang konsisten, hasil ini dapat di anggap sebagai sebuah bukti yang dapat di gunakan untuk mengembangkan teori-teori yang bertujuan untuk menjelaskan fenomena Alam.


Rabu, 09 April 2014

“Esensi Manusia dalam Mewujudkan Masyarakat Adil Makmur Berlandaskan Pancasila”

“Esensi Manusia dalam Mewujudkan Masyarakat Adil Makmur Berlandaskan Pancasila”

Makalah ini diajukan sebagai syarat mengikuti
Latihan Kader II (Intermediate Training) Tingkat Nasional HMI Cabang Padang

 











Oleh :
HILMAN AFRIYANSAH HALIM

ANALISIS SERTA PENANGGULANGAN KONFLIK DALAM PERGERAKAN HMI KOMISARIAT FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS CABANG CIPUTAT

ANALISIS SERTA PENANGGULANGAN KONFLIK DALAM PERGERAKAN HMI KOMISARIAT FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS CABANG CIPUTAT


Sebagaimana yang sama-sama kita ketahui, organisasi adalah sekumpulan orang-orang yang tergabung di dalam suatu wadah dan memiliki tujuan yang sama. Organisasi layaknya suatu sistem yang didalamnya terdapat elemen-elemen yang saling berhubungan agar dapat menjalankan suatu proses. Apabila salah satu dari elemen tersebut bermasalah, maka sistem tersebut tidak akan berjalan dengan baik. Di dalam organisasi terdapat orang-orang yang mempunyai tugas, fungsi dan perannya masing-masing dalam menjalankan roda organisasi tersebut. Satu sama lain akan berkaitan dan saling berhubungan serta berinteraksi untuk melakukan sesuatu yang ingin dicapai.
            Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) adalah sebuah organisasi yang lahir dalam totalitas kehidupan bangsa ini. HMI lahir untuk kepentingan yang “menyeluruh”, bukan kepada kepentingan kelompok ataupun individu. HMI adalah manifestasi dari kepedulian para pejuangnya untuk ikut berandil dalam menegakkan Republik Indonesia sekaligus mempertahankan dan menyiarkan sebuah “Kebenaran”. Hal ini bisa dibuktikan dari kiprah HMI dalam setiap perjalanan sejarah bangsa ini.
Dalam Anggaran dasar, pasal 8 dikatakan bahwa “HMI berfungsi sebagai organisasi kader”. HMI memiliki pedoman pengkaderan yang bertujuan untuk menjadikan kader-kader HMI sebagai kader yang berkualitas, terutama berkualitas insan cita dan dapat menjadi pribadi yang lebih baik khususnya bagi diri kader sendiri dan Indonesia pada umumnya. Tetapi dewasa ini banyak kita lihat perkaderan di HMI itu sendiri tidak berjalan sebagaimana mestinya, banyak terjadi disorientasi pada kader-kader HMI yang menyebabkan memudarnya ciri seorang kader HMI yang berilmu,beriman dan beramal.


·         Identifikasi Masalah
            HMI KAFEIS (komisariat Fakultas Ekonomi dan Bisnis) CABANG CIPUTAT adalah tempat dimana saya lahir sebagai anggota biasa di HMI. Kafeis merupakan salah satu komisariat yang berada di kalangan mahasiswa Fakultas Ekonomi. Dalam perjalanannya yang kurang lebih sudah 5 tahun ini, HMI KAFEIS saya rasa masih perlu ditingkatkan dalam pola perkaderannya, terlebih lagi akhir-akhir ini meningkatnya jumlah angota-anggota baru yang tergabung dalam HMI Kafeis sendiri sehingga kurang terkoordinir dengan baik.
            Perkaderan di HMI KAFEIS banyak yang perlu dibenahi. Perkaderan yang seharusnya terkoordinir dengan baik tidak lagi berjalan dengan semestinya,. Salah satu penyebabnya adalah masalah internal yang terjadi di HMI Kafeis sendiri. Kurangnya profesionalitas dalam menyikapi suatu masalah sehingga ketika terjadi konflik pribadi diantara kader berdampak negative terhadap jalannya organisasi. Perkaderan di HMI KAFEIS perlu dibenahi karena hanya memenuhi aspek formal semata-mata, dalam artian sudah tak memiliki muatan nilai. Suatu pemikiran yang banyak dilansir oleh pemikir HMI, khususnya yang pernah hidup dalam carut-marut dunia perkaderan HMI. Disebutkan begitu, didasarkan pada kenyataan dimana perkaderan HMI KAFEIS kurang mencerminkan sebuah tatanan yang terdiri dari sejumlah bagian yang saling terkait dan saling mendukung satu sama lain guna mencapai target, sebagaimana layaknya sebuah pelatihan dalam kerangka pembentukan karakter kader. Demikian, bahwa perkaderan HMI KAFEIS kurang mencerminkan tatanan yang jelas, kontinyu, dan konsisten. Dengan begitu, setidaknya memerlukan pola yang jelas dan tertuang dalam suatu system perkaderan HMI yang memungkin berbagai element melakukan penggantian interaksi baik vertical maupun horizontal melalui pembentukan kader berkualitas Insan Cita.
            Baik tidaknya perkaderan di HMI KAFEIS ini, memang tidak hanya bisa dilihat dari kontinuitas kepemimpinan organisasi, tetapi dilihat dari karya-karya produktifnya, baik dalam bentuk perilaku organisasi yang solid, dinamis dan elegan, maupun dalam bentuk pribadi kader-kadernya yang berdisiplin tinggi, juga dalam hal efektifitas perkaderan yang dilakukannya. Artinya bahwa ketika HMI KAFEIS secara struktural tidak lagi memiliki efektifitas untuk menggerakkan potensi organisasi ataupun potensi kader yang dimilikinya, ini menjadikan asumsi bahwa perkaderan di lingkungan HMI Kafeis telah mengalami masalah yang cukup serius yang harus dikembalikan pada pola perkaderan yang semestinya.
Dari penjelasan di atas dapat diidentifikasikan masalah yang terjadi pada HMI Kafeis Cabang Ciputat adalah :
1.      Permasalahan internal dalam kepengurusan HMI KAFEIS itu sendiri. Konflik yang terjadi diantara kader seperti masalah pribadi diantara individu yang berakibat pada berkurangnya efektifitas HMI KAFEIS karena banyak kader yang mulai menjauh dan tidak aktif lagi.
2.      Dalam komunikasi organisasi; masalah yang terjadi adalah kurang terciptanya komunikasi yang baik diantara kader dalam hal formal maupun informal.
3.      Dalam perkaderan formal di HMI (LK I) peran mentor/astor adalah mengawasi dan memberikan pengenalan lebih mendalam kepada anggota baru tentang HMI itu sendiri. Tetapi kenyataan yang terjadi pada HMI KAFEIS masih Kurangnya “follow up” dari para Mentor / Astor pasca LK I.
Poin-poin diatas menurut saya adalah permasalahan yang cukup serius dan perlu dibenahi agar perkaderan secara struktural maupun kultural di HMI KAFEIS dapat berjalan dengan baik.
·         Data
HMI KAFEIS (Komisariat Fakultas Ekonomi dan Bisnis) Cabang Ciputat yang berdiri pada adalah tanggal 22 september 2008 adalah sebuah bentuk kepeloporan yang dilakukan oleh kader-kader HMI Kafeis yang merasa perlunya didirikan sebuah komisariat baru untuk mewadahi kader khususnya di lingkungan Fak.Ekonomi dan bisnis UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Komisariat ini merupakan hasil pemekaran dari HMI KOMFASTEK (komisariat Fakultas SAINTEK dan EKONOMI).
HMI KAFEIS tergolong muda dalam kiprahnya di Cabang Ciputat. Tetapi dalam perjalanannya mengembangkan organisasi, Kafeis kini telah melahirkan banyak keder-kader baru. Dalam database kader, tercatat sebanyak 283 anggota yang tergabung dalam keluarga besar HMI KAFEIS sejak pemekaran hingga sekarang. HMI di Fakultas Ekonomi dan Bisnis sendiri dapat dikatakan baru mengalami peningkatan jumlah anggota dalam setahun terakhir. Meningkatnya jumlah kader tidak dipungkiri karena HMI KAFEIS yang selama 10 tahun tidak pernah memegang posisi-posisi strategis dalam kampus seperti BEM Fakultas, akhirnya berkat perjuangan yang gigih dari para Spartan HMI KAFEIS serta kerja keras semua kader, terpilih Ahmad Fauzan Aulia ( Manajemen ‘2010’) yang merupakan Kepala Bidang PTKK (Perguruan Tinggi Kemahasiswaan dan Kepemudaan) pada kepengurusan HMI Kafeis periode 2012-2013 sebagai Presiden BEM Fakultas Ekonomi dan Bisnis (BEM FEB) Periode 2013-2014. Selama memegang sistem intra kampus ini, HMI kafeis mendapatkan sedikit “Kemudahan” dalam perekrutan calon anggota baru.
Dalam kiprahnya yang dikatakan baru mengalami perkembangan dan peningkatan yang dilihat dari kuantitas kader,  ada beberapa hal yang perlu dicatat dari permasalahan yang terjadi di HMI KAFEIS :
Pertama, Konflik diantara kader ini terjadi pada kader angkatan 2011. Berawal ketika adanya salah seorang kader yang merasa dirinya yang paling benar, maksudnya disini kader tersebut bahwa pendapatnya lah yang paling benar dan itu yang harus dilakukan. Selain itu sifat Arogansinya yang selalu membanggakan dirinya sendiri membuat kader lain menjadi “risih” terhadapnya. Tidak jarang anggota yang lain mengeluh dan merasa terganggu dengan sifat atau karakter kader ini. Ada yang sampai mengambil keputusan untuk tidak aktif lagi di HMI KAFEIS karena merasa sakit hati atas perlakuan kader tersebut terhadap dirinya. Melihat konflik yang terjadi ini, ada beberapa orang kader yang mencoba untuk mencari jalan keluarnya dengan cara berkumpul bersama dan membahas tentang bagaimana jalan keluarnya. Pada saat itu jalan keluar yang disepakati adalah sahabat si kader akan mencoba berbicara “4 mata” dengan kader tersebut tentang apa yang telah menjadi kegelisahan beberapa anggota terhadap karakternya. Tetapi setelah dibicarakan layaknya seorang sahabat, kader tersebut tetap tidak menunjukkan tanda-tanda perubahan terhadap sifat arogansinya.
Kedua , Komunikasi yang terjalin diantara pengurus dan anggota maupun sebaliknya yang kurang lancar. Ketika ada pemberitahuan tentang rapat ataupun acara-acara yang akan diadakan di HMI KAFEIS, pemberitahuan tersebut tidak tersebar dengan baik sehingga ada kader yang tidak mendapatkan informasi, sehingga mereka tidak ikut berpartisipasi dalam kegiatan yang akan dilaksanakan. Tidak hanya itu, komunikasi yang kurang baik juga terjadi pada sesama pengurus HMI KAFEIS, dalam hal penyampaian informasi seringkali adanya miskomunikasi diantara pengurus yang menyebabkan berita yang tersebar diantara kader berbeda-beda.
Ketiga, Follow up pasca LK I belum begitu terlaksana dengan baik sehingga kader-kader baru yang telah dinyatakan lulus LK I kurang dikader dan satu-persatupun menghilang. Dalam beberapa bulan terakhir HMI KAFEIS mengalami peningkatan yang signifikan dari kuantitas kader yang mengikuti LK I. Tercatat bahwa Latihan Kader I yang terakhir diadakan diikuti sebanyak 73 orang dari berbagai jurusan yang ada di FEB. Angka ini merupakan pencapaian tertinggi selama HMI KAFEIS berdiri, yang sebelum-sebelumnya jumlah yang mengikuti LK I tidak melebihi dari 25 orang. Ini merupakan PR besar bagi HMI KAFEIS khususnya para Astor / Mentor kedepannya untuk melakukan follow up dan perkaderan terhadap kader-kader baru.
·         Analisis
Perkaderan adalah usaha organisasi  yang dilaksanakan secara sadar dan sistematis selaras dengan pedoman perkaderan HMI, sehingga memungkinkan seorang anggota HMI mengaktualkan potensi dirinya menjadi seorang kader Muslim Intelektual dan Profesional yang memiliki kualitas insan cita. Dalam menyikapi permasalahan yang terjadi di lingkungan HMI KAFEIS, Pedoman Perkaderan HMI sudah seharusnya dan wajib dijadikan sebuah acuan untuk membina kader agar menjadi apa yang telah di cita-citakan. Sesuai dengan tujuan Latihan Kader I sendiri yang berbunyi “Terbinanya kepribadian muslim yang berkualitas akademis, sadar akan fungsi dan peranannya dalam berorganisasi serta hak dan kewajibannya sebagai kader umat dan bangsa.”
Untuk menganalisis permasalahan-permasalahan tersebut, kita mengacu kepada beberapa teori ;
1.      George R. Terry. Ph.D. dalam bukunya “Asas-Asas Menajemen” yang di alihbahasakan oleh DR. Winardi, SE. menyebutkan bahwa Apabila kita menghadapi konflik, maka sebaiknya kita pertama-tama mengetahui eksistensinya dan kemudian mengidentifikasi orang-orang yang berhubungan dengannya. Selidikilah pemikiran pihak lain guna mendapatkan kepastian siapa mereka itu, dan janganlah beranggapan bahwa kita telah mengetahuinya. Seperti yang dikatakan, konflik terdapat Antara individu-individu, kelompok-kelompok dan organisasi-organisasi. Apabila dua orang individu berpegang pada pandangan yang sama sekali bertentangan satu sama lain, tidak pernah berkompromis, serta menarik kesimpulan kesimpulan yang cenderung bersikap tidak toleran, maka konflik pasti akan timbul.
Cara-cara untuk mengatasi konflik dalam organisasi diantaranya adalah :
v  Arbitrase (arbitration): Pihak ketiga mendengarkan keluhan kedua pihak dan berfungsi sebagai “hakim” yang mencari pemecahan mengikat. Cara ini mungkin tidak menguntungkan kedua pihak secara sama, tetapi dianggap lebih baik daripada terjadi muncul perilaku saling agresi atau tindakan destruktif.
v  Penengahan (mediation): Menggunakan mediator yang diundang untuk menengahi sengketa. Mediator dapat membantu mengumpulkan fakta, menjalin komunikasi yang terputus, menjernihkan dan memperjelas masalah serta mela-pangkan jalan untuk pemecahan masalah secara terpadu. Efektivitas penengahan tergantung juga pada bakat dan ciri perilaku mediator.
v  Konsultasi: Tujuannya untuk memperbaiki hubungan antar kedua pihak serta mengembangkan kemampuan mereka sendiri untuk menyelesaikan konflik. Konsultan tidak mempunyai wewenang untuk memutuskan dan tidak berusaha untuk menengahi. la menggunakan berbagai teknik untuk meningkatkan persepsi dan kesadaran bahwa tingkah laku kedua pihak terganggu dan tidak berfungsi, sehingga menghambat proses penyelesaian masalah yang menjadi pokok sengketa.
2.      Everet M. Rogers. Dalam bukunya “Communication in Organization.” Komunikasi organisasi adalah suatu sistem yang mapan dari mereka yang bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama, melalui jenjang kepangkatan dan pembagian tugas.
Jenis komunikasi Organisasi :
v  Komunikasi lisan dan tertulis
Dasar penggolongan komunikasi lisan dan tertulis ini adalah bentuk pesan yang akan disampaikan. Banyak bentuk komunikasi: terutama komunikasi antar pribadi (interpersonal communication), disampaikan secara lisan maupun tertulis. Karena sebagian besar interaksi manusia terjadi dalam bentuk ini, maka berbagai studi telah dilakukan untuk menilai manfaat dan efisiensi dari pesan yang disampaikan dengan cara ini.
v  Komunikasi verbal dan non verbal
Jika dua orang berinteraksi, maka informasi mengenai perasaan dan gagasan atau ide yang timbul akan dikomunikasikan. Perasaan seseorang juga dapat dinyatakan melalui berbagai isyarat-isyarat atau signal-signal non verbal. Dalam percakapan tatap muka langsung, perasaan, keadaan jiwa, atau suasana hati seseorang dinyatakan melalui gerakan isyarat(gesture), ekspresi wajah, posisi dan gerakan badan, postur, kontak fisik, kontak pandangan mata, dan stimulasi non-verbal lain yang sama pentingnya dengan kata-kata yang diucapkan.
v  Komunikasi kebawah, keatas, dan kesamping
Penggolongan komunikasi kebawah, keatas, dan kesamping (lateral) ini didasarkan pada arah aliran pesan-pesan dan informasi didalam suatu organisasi. Untuk memperoleh pengertian yang lebih mendalam, maka akan diuraikan ketiga jenis komunikasi tersebut :
-          Komunikasi kebawah
Aliran informasi dalam komunikasi kebawah mengalir dari tingkatan manajemen puncak ke manajemen menengah, manajemen yang lebih rendah, dan akhirnya sampai pada karyawan operasional. Komunikasi ini juga mempunyai fungsi pengarahan, perintah, indoktrinasi, inspirasi dan evaluasi.
-          Komunikasi keatas
Alirannya dalam hirarki wewenang yang lebih rendah ke lebih tinggi biasanya mengalir disepanjang rantai komando. Fungsi utamanya adalah untuk memperoleh informasi mengenai kegiatan, keputusan dan pelaksanaan pekerjaan karyawan pada tingkat yang lebih rendah.
-          Komunikasi kesamping
Terjadi antara dua pejabat atau pihak yang berada dalam tingkatan hirarki wewenang yang sama (komunikasi horizontal) atau antara orang atau juga pihak pada tingkatan yang berbeda yang tidak mempunyai wewenang langsung terhadap pihak lainnya (komunikasi diagonal).
3.      Menurut Pola Umum perkaderan HMI, Maksud dan Tujuan dari arah perkaderan yaitu “Usaha yang dilakukan dalam rangka mencapai tujuan organisasi melalui suatu proses sadar dan sistematis sebagai alat transformasi nilai ke-Islaman dalam proses rekayasa peradaban melalui pembentukan kader berkualitas muslim-intelektual-profesional.”
Adapun Target dari perkaderan itu sendiri adalah “Terciptanya kader muslim-intelektual-profesional yang berakhlakul karimah serta mampu mengemban amanah Allah sebagai khalifah fil ardh dalam upaya mencapai tujuan organisasi.”
Pola dasar dari Basic Training ( Latihan Kader I). Target trainingnya adalah :
- Memiliki kesadaran menjalankan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari
- Mampu meningkatkan kemampuan akademis
- Memiliki kesadaran & tanggungjawab keumatan & kebangsaan
- Memiliki kesadaran berorganisasi
Untuk mewujudkan target tersebut, maka dibutuhkannya follow up perkaderan yang intens dan berkelanjutan Pasca LK I.
Dari teoti-teori diatas kita dapat menganalisis cara penanggulangan permasalahan yang terjadi di HMI kafeis itu sendiri.
Pertama, permasalahan internal pada kader HMI KAFEIS yang terjadi pada angkatan 2011. sebelum kita menyimpulkan sesuatu, pertama-tama kita harus mengetahui eksistensinya dan kemudian mengidentifikasi orang-orang yang berhubungan dengannya. Selidikilah pemikiran pihak lain guna mendapatkan kepastian siapa mereka itu, dan janganlah beranggapan bahwa kita telah mengetahuinya. Setelah mengetahui dan mengidentifikasi orang-orang yang berhubungan dengan kader tersebut, dan menanyakan pendapat orang lain guna mandapatkan kepastian tentang masalah ini, cara yang paling tepat dilakukan selanjutnya adalah dengan mediasi. Kader yang terlibat dalam permasalahan ini dipertemukan di dalam suatu forum yang difasilitasi oleh bidang Pembinaan Anggota HMI KAFEIS untuk membantu mengumpulkan fakta, menjernihkan serta memperjelas masalah serta melapangkan jalan untuk memecahkan masalah yang terjadi. Mediasi ini perlu dilakukan agar kedepannya roda organisasi HMI KAFEIS tetap berjalan dengan baik dan dapat bekerjasama secara total dalam mencapai tujuan organisasi.
            Kedua, masalah pada komunikasi organisasi yang tidak lancar  dan efektif. Mengacu pada teori diatas, salah satu cara yang bisa dilakukan untuk mengatasi permasalahan ini adalah dengan membuat “departemen Infokom” ( informasi dan komunikasi) dimana departemen ini merupakan bentuk yang lebih spesifik lagi dari Humas yang biasanya terdapat di dalam struktur kepanitiaan. Tugas dari departemen ini adalah untuk mengkomunikasikan dan memberi informasi terkait apa saja yang menyangkut urusan organisasi. Baik kepada anggota maupun kepada Alumni-Alumni HMI KAFEIS sendiri. Dengan cara ini diharapkan pola komunikasi di HMI KAFEIS menjadi lebih baik kedepannya.
            Ketiga, kurangnya follow up pasca LK I. Seperti yang kita ketahui bahwa LK I merupakan jenjang awal dalam proses perkaderan formal di HMI. Jika diibaratkan sebuah rumah, LK I merupakan pintu depan dimana kita dapat masuk kedalamnya, tetapi kita belum masuk kepada ruangan serta kamar-kamar yang ada. Untuk itu diperlukan “follow Up” bagi anggota baru pasca LK I tersebut agar mereka dapat memahami lebih mendalam mengenai HMI itu sendiri.. cara yang dapat dilakukan yaitu dengan mengadakan “Diskusi Perkaderan”. Kegiatan ini dapat dilakukan minimal 1x dalam seminggu atau sesuai kebutuhan Antara Mentor/Astor dengan para anggotanya. Dalam pertemuan ini dapat dilakukan seperti upgrading LK I yaitu 5 materi wajib, upgrading kesekretariatan, kepengurusan serta aktivitas-aktifitas seperti kelompok pengajian, kelompok belajar dan lain-lain. Peserta dibagi kedalam limited grup terdiri dari 3-5 orang yang dipandu oleh Mentor dan Astor. Cara ini dapat diterapkan sacara berkala dengan tingkatan pemberian materi yang sesuai. Tujuan akhirnya adalah mempersiapkan para kader untuk mengikuti jenjang perkaderan formal selanjutnya di HMI yaitu LK II (Intermediate Training).
·         Kesimpulan

Secara umur HMI KAFEIS masih tergolong muda dan perjuangan pergerakan organisasi ini masih terbentang lebar. Untuk itu diperlukannya sebuah “inovasi” dalam menjalan kan roda organisasi dan perkaderan sehingga kedepannya diharapkan HMI KAFEIS dapat menjadi sebuah Organisasi yang menciptakan kader-kader professional, sadar akan fungsi dan perannya serta mampu menjawab tantangan kedepan.