Tampilkan postingan dengan label HMI : Kini dan Nanti. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label HMI : Kini dan Nanti. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 18 Juni 2016

Menggugah Perjuangan Perempuan*

Sejarah perjuangan perempuan melawan kolonialisme sangat minim diketahui oleh masyarakat Indonesia. Kebanyakan masyarakat mengenal pejuang-pejuang mereka melawan penjajah hanya dari kalangan laki-laki atau organisasi yang digerakkan oleh laki-laki semata. Padahal perempuan juga memberi andil besar mengantarkan perjuangan Indonesia menuju gerbang kemerdekaan.
Menurut Suryochondro di dalam bukunya Perkembangan Gerakan Wanita di Indonesia (2000), organisasi perempuan pertama di Indonesia adalah Poetri Mardika. Kelahiran organisasi perempuan ini tak lepas dari peran Budi Oetomo, yang memang tidak bisa dipisahkan dari gerakan nasional bahkan internasional yang memperjuangkan emansipasi, nasionalisme dan kolonialisme. Setelah itu muncullah berbagai organisasi perempuan seperti Jong Java Maniskering, Young Javanese Girls Circle, Wanita Oetomo, Aisyiah, Poetri Indonesia, Wanito Muljo, Jong Islamieten Bond dan lain-lain.
Pada masa itu, gerakan perempuan nasionalis ini bersatu membasmi ketidakadilan dari sistem kolonial sekaligus memperjuangkan hak-hak perempuan dan kesejajaran. Maka tak heran jika nama-nama pejuang perempuan besar tanah air itu dikenang dan menjadi sosok teladan untuk generasi saat ini, seperti Cut Nya Dien dan Cut Meutia dari Aceh, Martha Crhistina Tiahahu dari dari Maluku, dan Nyai Ageng Serang dari Jawa Tengah serta berbagai pejuang perempuan lainnya. Sayangnya, sejarah nasional kita kurang adil dalam menyingkap fakta perjuangan kalangan perempuan di kalangan masyarakat. Sehingga yang dipahami masyarakat hanyalah perjuangan laki-laki semata.
Perjuangan perempuan di masa kemerdekaan ini lebih sulit dari masa penjajahan. Di jaman kolonialisme, semua bahu-membahu melawan penjajah. Musuh yang dihadapi sangat nyata di depan mata, penjajah !. Akan tetapi setelah kemerdekaan, perjuangan kaum perempuan beralih kepada perjuangan kesamaan politik, hak memperoleh pendidikan dan kesempatan kerja. Akan tetapi, perjuangan-perjuangan ini harus berhadapan dengan kasus-kasus diskriminasi dan pembagian peran yang tidak adil antara laki-laki dan perempuan.
Misalkan dalam ranah politik, masih teringat jelas di benak kita bagaimana pada tahun 1999 terdapat wacana pemimpin perempuan. Akan tetapi para politisi menggunakan nalar dan argumentasi agama untuk mendelegitimasi perempuan di kancah politik. Mereka menganggap perempuan tidak berhak menjadi pemimpin. Padahala langkah itu semata-mata untuk mengganjal politik Megawati untuk menjadi Presiden. Hal ini bisa dibuktikan ketika kemudian hampir seluruh politisi tidak mempersoalkan Megawati untuk menggantikan kepemimpinan Gus Dur. Artinya, kepentingan politik juga mengarah pada diskriminasi terhadap perempuan.
Dalam ranah legislatif, memang sudah terdapat UU perihal keharusan 30% partisipasi perempuan di wakil rakyat. Akan tetapi, kuota ini sangat sulit terpenuhi. Banyak di kalangan partai politik sulit memenuhi kuota tersebut karena di satu sisi jumlah tokoh politik perempuan mungkin masih terbatas, tetapi di sisi yang lain banyak dari kalangan politisi laki-laki yang kurang bersemangat untuk memenuhi kuota tersebut. Toh jika pun ada, mereka hanya mengakomodir kalangan perempuan yang memiliki pengaruh dan masa yang besar, tanpa mempertimbangan hak-hak perempuan dengan kepemimpinan yang baik dan integritas yang teruji.
Begitu juga dalam berbagai bidang-bidang lain. Diskriminasi terhadap perempuan masih banyak terjadi, sebagaimana pemerkosaan dan bentuk-bentuk kekerasan, pelecehan seksual lainnya, perdagangan perempuan, diskriminasi di tempat kerja dan banyak kasus lainnya. Untuk itu masalah pemberdayaan perempuan atau persoalan bagaimana perempuan diletakkan dalam kehidupan bernegara sangat penting untuk terus diperjuangkan, mengingat masih banyak persoalan tentang perempuan belum bisa diatasi.
Perempuan sebagaimana juga laki-laki merupakan warga negara dengan hak-hak kewarganegaraan yang sama. Oleh karena itu, tidak boleh ada diskriminalisasi hanya karena perbedaan jenis kelamin, sebagaimana juga tidak dibenarkan diskriminasi terhadap perbedaan agama, suku, bahasa, kelas ekonomi, ras, dan lain-lain, karena hal ini bertentangan dengan prinsip-prinsip demokrasi dan hak asasi manusia secra universal.
Perjuangan tersebut harus diletakkan dalam keadilan sosial yang lebih luas, yakni membebaskan manusia dari berbagai bentuk diskriminasi. Permasalahan dan diskriminasi terhadap perempuan saat ini bukan hanya permasalahan yang harus diperjuangkann oleh perempuan semata, tetapi ini menjadi permasalahan bersama, baik laki-laki maupun perempuan. Masyarakat yang berkeadilan gender tidak hanya akan menguntungkan perempuan, tetapi juga laki-laki, karena majunya perempuan akan memberi dampak kemajuan bagi seluruh masyarakat, baik laki-laki maupun perempuan.
Apatisme Mahasiswi
Sayangnya, berbagai persoalan ini justru tidak mendapatkan kesadaran serius di kalangan perempuan sendiri. Harus diakui, sikap apatisme mahasiswi terhadap politik, pendidikan, budaya dan sosial kemasyarakatan masih menjadi penyakit yang akut. Sebagai kader intelektual perempuan, banyak kalangan mahasiswi yang acuh terhadap kondisi bangsa dan negara serta lingkungan sekitar. Sikap rendah diri, masa bodoh, dan penakut merupakan suatu bentuk tindakan yang masih membayangi mahasiswi. Sikap itu tidak seharusnya ada pada diri setiap perempuan. Sifat-sifat kerendahan itu harus dilenyapkan. Atas dasar tanggung jawab terhadap bangsa dan agama, maka partisipasi perempuan di dalam ranah publik merupakan sebuah kemutlakan.
Perempuan mempunyai hak-hak dalam kehidupan meliputi segala aspek kehidupan baik dalam ranah politik, sosial, ekonomi, maupun kebudayaan. Hak-hak ini merupakan tuntutan nurani yang mendorong manusia untuk berkeinginan, berkehendak dan berbuat sebagai realisasi dan manifestasi ajaran-ajaran Islam. Naifnya, mahasiswi saat ini justru memilih untuk menghabiskan waktu pada hal-hal yang tidak bermanfaat. Mereka sibuk dengan gadget, tren sosial, penampilan ataupun gaya hidup yang semakin tinggi. Ujungnya, hanya mengahasilkan konsumerisme, hedonisme dan apatisme sosial. Jangankan melanjutkan perjuangan perempuan, mengetahui dan memahami saja tidak pernah, apalagi peka terhadap politik, ekonomi, dan sosial.
Harus pula dipahami, masih sangat minim usaha-usaha konkrit mahasiswi ke dalam partisipasi publik yang meliputi bidang-bidang organisasi, administrasi, latihan-latihan kepemimpinan, pendidikan dan pengajaran, kebudayaan, dakwah maupun dalam berbagai bentuk sosial kemasyarakatan lain. Padahal hal ini menyangkut peri hidup perempuan dalam hubungannya dengan pengabdian terhadap masyarakat. Adapun pengabdian merupakan salah satu dari bagian Tri Dharma perguruan tinggi. Jika pengabdian diiringi dengan niat yang ikhlas dan sebuah bentuk ketaatan terhadap perintah Tuhan, maka akan melahirkan sebuah amal ibadah mulia.
Sebagai mahasiswi dan anggota masyarakat, perempuan harus berpartisipasi dalam ranah politik, ekonomi, kebudayaan maupun kehidupan sosial masyarakat. Karena itu semua merupakan manifesto antara ilmu dan amal, antara teori dan perbuatan. Sebuah bentuk konkrit penyatuan antar kata dan tindakan kepada masyarakat selagi tidak bertentangan dengan nilai-nilai ajaran agama. Dikotomi antar mahasiswi dan sosial masyarakat mutlak harus ditolak.

*(Syarifaeni Fahdiah ; Ketua Umum Kohati Cabang Ciputat)

Senin, 21 September 2015

SELAMAT ULANG TAHUN HMI KAFEIS

22 september 2008 - 22 september 2015

Selamat Ulang Tahun Kafeisku..

7 tahun sudah komisariat ini berdiri, selama itu pula kita telah melewati suka duka, pahit manis di rumah kecil penuh makna ini.

7 tahun sudah Kafeis terus menjalankan roda perkaderan di FEB UIN JKT khususnya. 7 tahun bukanlah waktu yang singkat, meskipun tergolong komisariat yang masih seumur jagung di Cabang Ciputat, tetapi Kafeis mampu untuk bertahan, melahirkan kader-kader yang cinta seutuhnya kepada HMI.

Selamat ulang tahun Kafeis..

Do'a ku semoga 7 tahun yang telah dilalui ini menjadi pembelajaran bagi kita semua, agar kita tetap bisa menjaga nama baik Kafeis, agar kami tetap bisa menjadi Harapan negeri ini, dan agar kami tetap bisa melanjutkan cita-cita Para pendahulu kami untuk menjadi Insan yang diridhoi Allah SWT.
Yakin Usaha Sampai!!

Selamat Ulang Tahun Kafeis...

Rabu, 04 Februari 2015

Selamat Ulang Tahun Himpunanku

68 tahun yang lalu, dimana Kakanda Lafran Pane beserta kawan-kawannya menuangkan gagasan-gagasan serta ide-ide mereka sehingga sampai detik ini kita masih bisa merasakan betapa hangatnya Himpunan yang mereka lahirkan ini. 68 Tahun sudah Himpunan ini melewati berbagai zaman, mencoba tetap bertahan dalam dinamika-dinamika yang terjadi. Tak jarang Himpunanku ini menuai kritik dan celaan serta caci maki, tetapi dengan Bersyukur dan Ikhlas serta Berdo'a dan Ikrar Himpunanku ini mampu menjawab caci makian itu semua.

Sering kali aku mendengar sebuah kalimat "Jangan pikirkan apa yang bisa HMI berikan kepadamu, tetapi pikirkan apa yang kamu bisa berikan untuk HMI". Ternyata benar, HMI ku ini hanyalah sebuah lambang yang tidak bisa bergerak,kaku dan mati. Tetapi Karena perjuangan dan semangat kader-kadernyalah Himpunan ini masih tetap bertahan sampai detik ini.

Selamat ulang tahun Himpunanku, Do'a ku semoga 68 tahun yang telah dilalui ini menjadi pembelajaran bagi kami semua, agar kami tetap bisa menjaga nama baikmu, agar kami tetap bisa menjadi Harapan negeri ini, dan agar kami tetap bisa melanjutkan cita-cita Para pendahulu kami untuk menjadi Insan yang diridhoi Allah SWT.
Yakin Usaha Sampai!!

Selamat Ulang Tahun Himpunanku

Rabu, 09 April 2014

“Esensi Manusia dalam Mewujudkan Masyarakat Adil Makmur Berlandaskan Pancasila”

“Esensi Manusia dalam Mewujudkan Masyarakat Adil Makmur Berlandaskan Pancasila”

Makalah ini diajukan sebagai syarat mengikuti
Latihan Kader II (Intermediate Training) Tingkat Nasional HMI Cabang Padang

 











Oleh :
HILMAN AFRIYANSAH HALIM

ANALISIS SERTA PENANGGULANGAN KONFLIK DALAM PERGERAKAN HMI KOMISARIAT FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS CABANG CIPUTAT

ANALISIS SERTA PENANGGULANGAN KONFLIK DALAM PERGERAKAN HMI KOMISARIAT FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS CABANG CIPUTAT


Sebagaimana yang sama-sama kita ketahui, organisasi adalah sekumpulan orang-orang yang tergabung di dalam suatu wadah dan memiliki tujuan yang sama. Organisasi layaknya suatu sistem yang didalamnya terdapat elemen-elemen yang saling berhubungan agar dapat menjalankan suatu proses. Apabila salah satu dari elemen tersebut bermasalah, maka sistem tersebut tidak akan berjalan dengan baik. Di dalam organisasi terdapat orang-orang yang mempunyai tugas, fungsi dan perannya masing-masing dalam menjalankan roda organisasi tersebut. Satu sama lain akan berkaitan dan saling berhubungan serta berinteraksi untuk melakukan sesuatu yang ingin dicapai.
            Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) adalah sebuah organisasi yang lahir dalam totalitas kehidupan bangsa ini. HMI lahir untuk kepentingan yang “menyeluruh”, bukan kepada kepentingan kelompok ataupun individu. HMI adalah manifestasi dari kepedulian para pejuangnya untuk ikut berandil dalam menegakkan Republik Indonesia sekaligus mempertahankan dan menyiarkan sebuah “Kebenaran”. Hal ini bisa dibuktikan dari kiprah HMI dalam setiap perjalanan sejarah bangsa ini.
Dalam Anggaran dasar, pasal 8 dikatakan bahwa “HMI berfungsi sebagai organisasi kader”. HMI memiliki pedoman pengkaderan yang bertujuan untuk menjadikan kader-kader HMI sebagai kader yang berkualitas, terutama berkualitas insan cita dan dapat menjadi pribadi yang lebih baik khususnya bagi diri kader sendiri dan Indonesia pada umumnya. Tetapi dewasa ini banyak kita lihat perkaderan di HMI itu sendiri tidak berjalan sebagaimana mestinya, banyak terjadi disorientasi pada kader-kader HMI yang menyebabkan memudarnya ciri seorang kader HMI yang berilmu,beriman dan beramal.


·         Identifikasi Masalah
            HMI KAFEIS (komisariat Fakultas Ekonomi dan Bisnis) CABANG CIPUTAT adalah tempat dimana saya lahir sebagai anggota biasa di HMI. Kafeis merupakan salah satu komisariat yang berada di kalangan mahasiswa Fakultas Ekonomi. Dalam perjalanannya yang kurang lebih sudah 5 tahun ini, HMI KAFEIS saya rasa masih perlu ditingkatkan dalam pola perkaderannya, terlebih lagi akhir-akhir ini meningkatnya jumlah angota-anggota baru yang tergabung dalam HMI Kafeis sendiri sehingga kurang terkoordinir dengan baik.
            Perkaderan di HMI KAFEIS banyak yang perlu dibenahi. Perkaderan yang seharusnya terkoordinir dengan baik tidak lagi berjalan dengan semestinya,. Salah satu penyebabnya adalah masalah internal yang terjadi di HMI Kafeis sendiri. Kurangnya profesionalitas dalam menyikapi suatu masalah sehingga ketika terjadi konflik pribadi diantara kader berdampak negative terhadap jalannya organisasi. Perkaderan di HMI KAFEIS perlu dibenahi karena hanya memenuhi aspek formal semata-mata, dalam artian sudah tak memiliki muatan nilai. Suatu pemikiran yang banyak dilansir oleh pemikir HMI, khususnya yang pernah hidup dalam carut-marut dunia perkaderan HMI. Disebutkan begitu, didasarkan pada kenyataan dimana perkaderan HMI KAFEIS kurang mencerminkan sebuah tatanan yang terdiri dari sejumlah bagian yang saling terkait dan saling mendukung satu sama lain guna mencapai target, sebagaimana layaknya sebuah pelatihan dalam kerangka pembentukan karakter kader. Demikian, bahwa perkaderan HMI KAFEIS kurang mencerminkan tatanan yang jelas, kontinyu, dan konsisten. Dengan begitu, setidaknya memerlukan pola yang jelas dan tertuang dalam suatu system perkaderan HMI yang memungkin berbagai element melakukan penggantian interaksi baik vertical maupun horizontal melalui pembentukan kader berkualitas Insan Cita.
            Baik tidaknya perkaderan di HMI KAFEIS ini, memang tidak hanya bisa dilihat dari kontinuitas kepemimpinan organisasi, tetapi dilihat dari karya-karya produktifnya, baik dalam bentuk perilaku organisasi yang solid, dinamis dan elegan, maupun dalam bentuk pribadi kader-kadernya yang berdisiplin tinggi, juga dalam hal efektifitas perkaderan yang dilakukannya. Artinya bahwa ketika HMI KAFEIS secara struktural tidak lagi memiliki efektifitas untuk menggerakkan potensi organisasi ataupun potensi kader yang dimilikinya, ini menjadikan asumsi bahwa perkaderan di lingkungan HMI Kafeis telah mengalami masalah yang cukup serius yang harus dikembalikan pada pola perkaderan yang semestinya.
Dari penjelasan di atas dapat diidentifikasikan masalah yang terjadi pada HMI Kafeis Cabang Ciputat adalah :
1.      Permasalahan internal dalam kepengurusan HMI KAFEIS itu sendiri. Konflik yang terjadi diantara kader seperti masalah pribadi diantara individu yang berakibat pada berkurangnya efektifitas HMI KAFEIS karena banyak kader yang mulai menjauh dan tidak aktif lagi.
2.      Dalam komunikasi organisasi; masalah yang terjadi adalah kurang terciptanya komunikasi yang baik diantara kader dalam hal formal maupun informal.
3.      Dalam perkaderan formal di HMI (LK I) peran mentor/astor adalah mengawasi dan memberikan pengenalan lebih mendalam kepada anggota baru tentang HMI itu sendiri. Tetapi kenyataan yang terjadi pada HMI KAFEIS masih Kurangnya “follow up” dari para Mentor / Astor pasca LK I.
Poin-poin diatas menurut saya adalah permasalahan yang cukup serius dan perlu dibenahi agar perkaderan secara struktural maupun kultural di HMI KAFEIS dapat berjalan dengan baik.
·         Data
HMI KAFEIS (Komisariat Fakultas Ekonomi dan Bisnis) Cabang Ciputat yang berdiri pada adalah tanggal 22 september 2008 adalah sebuah bentuk kepeloporan yang dilakukan oleh kader-kader HMI Kafeis yang merasa perlunya didirikan sebuah komisariat baru untuk mewadahi kader khususnya di lingkungan Fak.Ekonomi dan bisnis UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Komisariat ini merupakan hasil pemekaran dari HMI KOMFASTEK (komisariat Fakultas SAINTEK dan EKONOMI).
HMI KAFEIS tergolong muda dalam kiprahnya di Cabang Ciputat. Tetapi dalam perjalanannya mengembangkan organisasi, Kafeis kini telah melahirkan banyak keder-kader baru. Dalam database kader, tercatat sebanyak 283 anggota yang tergabung dalam keluarga besar HMI KAFEIS sejak pemekaran hingga sekarang. HMI di Fakultas Ekonomi dan Bisnis sendiri dapat dikatakan baru mengalami peningkatan jumlah anggota dalam setahun terakhir. Meningkatnya jumlah kader tidak dipungkiri karena HMI KAFEIS yang selama 10 tahun tidak pernah memegang posisi-posisi strategis dalam kampus seperti BEM Fakultas, akhirnya berkat perjuangan yang gigih dari para Spartan HMI KAFEIS serta kerja keras semua kader, terpilih Ahmad Fauzan Aulia ( Manajemen ‘2010’) yang merupakan Kepala Bidang PTKK (Perguruan Tinggi Kemahasiswaan dan Kepemudaan) pada kepengurusan HMI Kafeis periode 2012-2013 sebagai Presiden BEM Fakultas Ekonomi dan Bisnis (BEM FEB) Periode 2013-2014. Selama memegang sistem intra kampus ini, HMI kafeis mendapatkan sedikit “Kemudahan” dalam perekrutan calon anggota baru.
Dalam kiprahnya yang dikatakan baru mengalami perkembangan dan peningkatan yang dilihat dari kuantitas kader,  ada beberapa hal yang perlu dicatat dari permasalahan yang terjadi di HMI KAFEIS :
Pertama, Konflik diantara kader ini terjadi pada kader angkatan 2011. Berawal ketika adanya salah seorang kader yang merasa dirinya yang paling benar, maksudnya disini kader tersebut bahwa pendapatnya lah yang paling benar dan itu yang harus dilakukan. Selain itu sifat Arogansinya yang selalu membanggakan dirinya sendiri membuat kader lain menjadi “risih” terhadapnya. Tidak jarang anggota yang lain mengeluh dan merasa terganggu dengan sifat atau karakter kader ini. Ada yang sampai mengambil keputusan untuk tidak aktif lagi di HMI KAFEIS karena merasa sakit hati atas perlakuan kader tersebut terhadap dirinya. Melihat konflik yang terjadi ini, ada beberapa orang kader yang mencoba untuk mencari jalan keluarnya dengan cara berkumpul bersama dan membahas tentang bagaimana jalan keluarnya. Pada saat itu jalan keluar yang disepakati adalah sahabat si kader akan mencoba berbicara “4 mata” dengan kader tersebut tentang apa yang telah menjadi kegelisahan beberapa anggota terhadap karakternya. Tetapi setelah dibicarakan layaknya seorang sahabat, kader tersebut tetap tidak menunjukkan tanda-tanda perubahan terhadap sifat arogansinya.
Kedua , Komunikasi yang terjalin diantara pengurus dan anggota maupun sebaliknya yang kurang lancar. Ketika ada pemberitahuan tentang rapat ataupun acara-acara yang akan diadakan di HMI KAFEIS, pemberitahuan tersebut tidak tersebar dengan baik sehingga ada kader yang tidak mendapatkan informasi, sehingga mereka tidak ikut berpartisipasi dalam kegiatan yang akan dilaksanakan. Tidak hanya itu, komunikasi yang kurang baik juga terjadi pada sesama pengurus HMI KAFEIS, dalam hal penyampaian informasi seringkali adanya miskomunikasi diantara pengurus yang menyebabkan berita yang tersebar diantara kader berbeda-beda.
Ketiga, Follow up pasca LK I belum begitu terlaksana dengan baik sehingga kader-kader baru yang telah dinyatakan lulus LK I kurang dikader dan satu-persatupun menghilang. Dalam beberapa bulan terakhir HMI KAFEIS mengalami peningkatan yang signifikan dari kuantitas kader yang mengikuti LK I. Tercatat bahwa Latihan Kader I yang terakhir diadakan diikuti sebanyak 73 orang dari berbagai jurusan yang ada di FEB. Angka ini merupakan pencapaian tertinggi selama HMI KAFEIS berdiri, yang sebelum-sebelumnya jumlah yang mengikuti LK I tidak melebihi dari 25 orang. Ini merupakan PR besar bagi HMI KAFEIS khususnya para Astor / Mentor kedepannya untuk melakukan follow up dan perkaderan terhadap kader-kader baru.
·         Analisis
Perkaderan adalah usaha organisasi  yang dilaksanakan secara sadar dan sistematis selaras dengan pedoman perkaderan HMI, sehingga memungkinkan seorang anggota HMI mengaktualkan potensi dirinya menjadi seorang kader Muslim Intelektual dan Profesional yang memiliki kualitas insan cita. Dalam menyikapi permasalahan yang terjadi di lingkungan HMI KAFEIS, Pedoman Perkaderan HMI sudah seharusnya dan wajib dijadikan sebuah acuan untuk membina kader agar menjadi apa yang telah di cita-citakan. Sesuai dengan tujuan Latihan Kader I sendiri yang berbunyi “Terbinanya kepribadian muslim yang berkualitas akademis, sadar akan fungsi dan peranannya dalam berorganisasi serta hak dan kewajibannya sebagai kader umat dan bangsa.”
Untuk menganalisis permasalahan-permasalahan tersebut, kita mengacu kepada beberapa teori ;
1.      George R. Terry. Ph.D. dalam bukunya “Asas-Asas Menajemen” yang di alihbahasakan oleh DR. Winardi, SE. menyebutkan bahwa Apabila kita menghadapi konflik, maka sebaiknya kita pertama-tama mengetahui eksistensinya dan kemudian mengidentifikasi orang-orang yang berhubungan dengannya. Selidikilah pemikiran pihak lain guna mendapatkan kepastian siapa mereka itu, dan janganlah beranggapan bahwa kita telah mengetahuinya. Seperti yang dikatakan, konflik terdapat Antara individu-individu, kelompok-kelompok dan organisasi-organisasi. Apabila dua orang individu berpegang pada pandangan yang sama sekali bertentangan satu sama lain, tidak pernah berkompromis, serta menarik kesimpulan kesimpulan yang cenderung bersikap tidak toleran, maka konflik pasti akan timbul.
Cara-cara untuk mengatasi konflik dalam organisasi diantaranya adalah :
v  Arbitrase (arbitration): Pihak ketiga mendengarkan keluhan kedua pihak dan berfungsi sebagai “hakim” yang mencari pemecahan mengikat. Cara ini mungkin tidak menguntungkan kedua pihak secara sama, tetapi dianggap lebih baik daripada terjadi muncul perilaku saling agresi atau tindakan destruktif.
v  Penengahan (mediation): Menggunakan mediator yang diundang untuk menengahi sengketa. Mediator dapat membantu mengumpulkan fakta, menjalin komunikasi yang terputus, menjernihkan dan memperjelas masalah serta mela-pangkan jalan untuk pemecahan masalah secara terpadu. Efektivitas penengahan tergantung juga pada bakat dan ciri perilaku mediator.
v  Konsultasi: Tujuannya untuk memperbaiki hubungan antar kedua pihak serta mengembangkan kemampuan mereka sendiri untuk menyelesaikan konflik. Konsultan tidak mempunyai wewenang untuk memutuskan dan tidak berusaha untuk menengahi. la menggunakan berbagai teknik untuk meningkatkan persepsi dan kesadaran bahwa tingkah laku kedua pihak terganggu dan tidak berfungsi, sehingga menghambat proses penyelesaian masalah yang menjadi pokok sengketa.
2.      Everet M. Rogers. Dalam bukunya “Communication in Organization.” Komunikasi organisasi adalah suatu sistem yang mapan dari mereka yang bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama, melalui jenjang kepangkatan dan pembagian tugas.
Jenis komunikasi Organisasi :
v  Komunikasi lisan dan tertulis
Dasar penggolongan komunikasi lisan dan tertulis ini adalah bentuk pesan yang akan disampaikan. Banyak bentuk komunikasi: terutama komunikasi antar pribadi (interpersonal communication), disampaikan secara lisan maupun tertulis. Karena sebagian besar interaksi manusia terjadi dalam bentuk ini, maka berbagai studi telah dilakukan untuk menilai manfaat dan efisiensi dari pesan yang disampaikan dengan cara ini.
v  Komunikasi verbal dan non verbal
Jika dua orang berinteraksi, maka informasi mengenai perasaan dan gagasan atau ide yang timbul akan dikomunikasikan. Perasaan seseorang juga dapat dinyatakan melalui berbagai isyarat-isyarat atau signal-signal non verbal. Dalam percakapan tatap muka langsung, perasaan, keadaan jiwa, atau suasana hati seseorang dinyatakan melalui gerakan isyarat(gesture), ekspresi wajah, posisi dan gerakan badan, postur, kontak fisik, kontak pandangan mata, dan stimulasi non-verbal lain yang sama pentingnya dengan kata-kata yang diucapkan.
v  Komunikasi kebawah, keatas, dan kesamping
Penggolongan komunikasi kebawah, keatas, dan kesamping (lateral) ini didasarkan pada arah aliran pesan-pesan dan informasi didalam suatu organisasi. Untuk memperoleh pengertian yang lebih mendalam, maka akan diuraikan ketiga jenis komunikasi tersebut :
-          Komunikasi kebawah
Aliran informasi dalam komunikasi kebawah mengalir dari tingkatan manajemen puncak ke manajemen menengah, manajemen yang lebih rendah, dan akhirnya sampai pada karyawan operasional. Komunikasi ini juga mempunyai fungsi pengarahan, perintah, indoktrinasi, inspirasi dan evaluasi.
-          Komunikasi keatas
Alirannya dalam hirarki wewenang yang lebih rendah ke lebih tinggi biasanya mengalir disepanjang rantai komando. Fungsi utamanya adalah untuk memperoleh informasi mengenai kegiatan, keputusan dan pelaksanaan pekerjaan karyawan pada tingkat yang lebih rendah.
-          Komunikasi kesamping
Terjadi antara dua pejabat atau pihak yang berada dalam tingkatan hirarki wewenang yang sama (komunikasi horizontal) atau antara orang atau juga pihak pada tingkatan yang berbeda yang tidak mempunyai wewenang langsung terhadap pihak lainnya (komunikasi diagonal).
3.      Menurut Pola Umum perkaderan HMI, Maksud dan Tujuan dari arah perkaderan yaitu “Usaha yang dilakukan dalam rangka mencapai tujuan organisasi melalui suatu proses sadar dan sistematis sebagai alat transformasi nilai ke-Islaman dalam proses rekayasa peradaban melalui pembentukan kader berkualitas muslim-intelektual-profesional.”
Adapun Target dari perkaderan itu sendiri adalah “Terciptanya kader muslim-intelektual-profesional yang berakhlakul karimah serta mampu mengemban amanah Allah sebagai khalifah fil ardh dalam upaya mencapai tujuan organisasi.”
Pola dasar dari Basic Training ( Latihan Kader I). Target trainingnya adalah :
- Memiliki kesadaran menjalankan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari
- Mampu meningkatkan kemampuan akademis
- Memiliki kesadaran & tanggungjawab keumatan & kebangsaan
- Memiliki kesadaran berorganisasi
Untuk mewujudkan target tersebut, maka dibutuhkannya follow up perkaderan yang intens dan berkelanjutan Pasca LK I.
Dari teoti-teori diatas kita dapat menganalisis cara penanggulangan permasalahan yang terjadi di HMI kafeis itu sendiri.
Pertama, permasalahan internal pada kader HMI KAFEIS yang terjadi pada angkatan 2011. sebelum kita menyimpulkan sesuatu, pertama-tama kita harus mengetahui eksistensinya dan kemudian mengidentifikasi orang-orang yang berhubungan dengannya. Selidikilah pemikiran pihak lain guna mendapatkan kepastian siapa mereka itu, dan janganlah beranggapan bahwa kita telah mengetahuinya. Setelah mengetahui dan mengidentifikasi orang-orang yang berhubungan dengan kader tersebut, dan menanyakan pendapat orang lain guna mandapatkan kepastian tentang masalah ini, cara yang paling tepat dilakukan selanjutnya adalah dengan mediasi. Kader yang terlibat dalam permasalahan ini dipertemukan di dalam suatu forum yang difasilitasi oleh bidang Pembinaan Anggota HMI KAFEIS untuk membantu mengumpulkan fakta, menjernihkan serta memperjelas masalah serta melapangkan jalan untuk memecahkan masalah yang terjadi. Mediasi ini perlu dilakukan agar kedepannya roda organisasi HMI KAFEIS tetap berjalan dengan baik dan dapat bekerjasama secara total dalam mencapai tujuan organisasi.
            Kedua, masalah pada komunikasi organisasi yang tidak lancar  dan efektif. Mengacu pada teori diatas, salah satu cara yang bisa dilakukan untuk mengatasi permasalahan ini adalah dengan membuat “departemen Infokom” ( informasi dan komunikasi) dimana departemen ini merupakan bentuk yang lebih spesifik lagi dari Humas yang biasanya terdapat di dalam struktur kepanitiaan. Tugas dari departemen ini adalah untuk mengkomunikasikan dan memberi informasi terkait apa saja yang menyangkut urusan organisasi. Baik kepada anggota maupun kepada Alumni-Alumni HMI KAFEIS sendiri. Dengan cara ini diharapkan pola komunikasi di HMI KAFEIS menjadi lebih baik kedepannya.
            Ketiga, kurangnya follow up pasca LK I. Seperti yang kita ketahui bahwa LK I merupakan jenjang awal dalam proses perkaderan formal di HMI. Jika diibaratkan sebuah rumah, LK I merupakan pintu depan dimana kita dapat masuk kedalamnya, tetapi kita belum masuk kepada ruangan serta kamar-kamar yang ada. Untuk itu diperlukan “follow Up” bagi anggota baru pasca LK I tersebut agar mereka dapat memahami lebih mendalam mengenai HMI itu sendiri.. cara yang dapat dilakukan yaitu dengan mengadakan “Diskusi Perkaderan”. Kegiatan ini dapat dilakukan minimal 1x dalam seminggu atau sesuai kebutuhan Antara Mentor/Astor dengan para anggotanya. Dalam pertemuan ini dapat dilakukan seperti upgrading LK I yaitu 5 materi wajib, upgrading kesekretariatan, kepengurusan serta aktivitas-aktifitas seperti kelompok pengajian, kelompok belajar dan lain-lain. Peserta dibagi kedalam limited grup terdiri dari 3-5 orang yang dipandu oleh Mentor dan Astor. Cara ini dapat diterapkan sacara berkala dengan tingkatan pemberian materi yang sesuai. Tujuan akhirnya adalah mempersiapkan para kader untuk mengikuti jenjang perkaderan formal selanjutnya di HMI yaitu LK II (Intermediate Training).
·         Kesimpulan

Secara umur HMI KAFEIS masih tergolong muda dan perjuangan pergerakan organisasi ini masih terbentang lebar. Untuk itu diperlukannya sebuah “inovasi” dalam menjalan kan roda organisasi dan perkaderan sehingga kedepannya diharapkan HMI KAFEIS dapat menjadi sebuah Organisasi yang menciptakan kader-kader professional, sadar akan fungsi dan perannya serta mampu menjawab tantangan kedepan.