Rabu, 01 April 2015

Proses menuju Kedewasaan

Dalam hidup, tak jarang kita menemui kendala-kendala serta masalah yang seakan-akan membuat kita tak ingin lagi hidup di duina ini. Tetapi jika kita fikir dengan fikiran yang jernih, kendala dan masalah itulah sebenarnya yang akan membuat kita semakin Dewasa di dalam hidup ini.
Menjadi seorang pemimpin tidaklah mudah, adakalanya kita dihadapkan dalam posisi yang sangat pelik, antara harus mengorbankan satu hal demi terwujudnya hal lain, sala satunya adalah WAKTU.
Ya.. Waktu kita untuk menikmati hidup seperti orang lain akan tersita demi sebuah tugas keumatan. Ini hanya salah satu dari sekian ribu contoh apa yang harus dikorbankan oleh seorang pemimpin. Tetapi ingatlah.... Semua itu tak akan sia-sia, karna dibalik itu semua Allah SWT pasti telah mempersiapkan sebuah jalan untuk kita, jalan untuk menjadi orang besar, jalan untuk menemukan makna hidup yang sebenarnya, dan pastinya adalah jalan untuk menuju kepada-NYA. #RefleksiSeorangKader

Minggu, 15 Februari 2015

Tan Malaka Mendebat Bung Karno

Tan Malaka menginjakkan kakinya kembali di tanah air setelah Belanda menyerah kepada Jepang pada 1942. Meski sudah berada di tanah air, Tan tetap menggunakan nama samaran guna menghindari intel Jepang dan negara imperialis.

Salah satu tempat yang sempat ditinggali Tan Malaka saat awal-awal kedatangannya kembali ke tanah air adalah Bayah, Banten. Tan tiba di kota itu Juni 1943. Saat itu Tan harus bekerja karena uang di kantongnya telah menipis.

Sementara untuk meminta bantuan kepada kaum pergerakan kemerdekaan saat itu Tan belum berani. Sebab, begitu lamanya dia berada di luar negeri sebagai orang buangan membuatnya ‘buta’ pada peta perpolitikan dan pergerakan di tanah air. Tan tak tahu yang mana teman dan mana lawan yang berkoloni dengan Jepang.

Di Bayah, Banten, Tan bekerja di bagian administrasi sebagai juru tulis para romusha. Di kemudian hari Tan diangkat menjadi kepala. Selain bekerja, Tan juga memberi berbagai pendidikan kepada para romusha di kota itu. Dalam hatinya, Tan sedih atas nasib yang menimpa saudara sebangsanya itu.

Karenanya romusha Bayah, Banten, menjadi salah satu kisah yang tak terlupakan bagi Tan. Bayah juga menjadi tempat pertemuan Tan Malaka dengan Soekarno untuk kali pertama. Namun saat itu Bung Karno tak mengetahui orang itu adalah Tan Malaka tokoh yang pemikirannya banyak menjadi inspirasinya. Sebab, saat itu Tan menyamar dengan nama Ilyas Hussein.

Saat itu lokasi tempat kerja Tan Malaka mendapat kehormatan untuk dikunjungi oleh dua pemimpin besar yang saat itu namanya tengah bersinar dalam perjuangan rakyat Indonesia yakni Soekarno dan Moh Hatta. Berbagai persiapan pun dilakukan untuk menyambut keduanya.

Saat itu Tan mendapat tugas untuk menyambut Bung Karno dan Hatta di pintu gerbang dan mengantarkan ke ruang pertemuan. Tan juga ditugasi untuk membawakan makanan dan minuman kepada keduanya.

Dalam biografinya ‘Dari Penjara ke Penjara’ Tan Malaka awalnya gembira bisa bertemu dengan Bung Karno dan Hatta. Sampai-sampai ia dipinjami temannya kemeja dan dasi karena pakaian yang dimilikinya penuh dengan tambalan dan dirasa kurang layak untuk digunakan bertemu dua tokoh itu.

Setelah sampai di ruang pertemuan, Bung Karno dan Bung Hatta lantas menyampaikan pidatonya masing-masing. Namun, pidato itu rupanya tak memuaskan hati Tan Malaka.

“Pidato itu tak berapa bedanya dengan berlusin-lusin yang diucapkannya di rapat raksasa dan radio… Sari isinya ialah cocok dengan kehendak Jepang penjajah: ‘Kita mesti berbakti dulu kepada Jepang, saudara tua, yang sekarang berperang mati-matian menantang Sekutu yang jahanam itu. Setelah Sekutu kalah maka kita oleh ‘saudara tua’ akan diberi kemerdekaan…” kata Tan Malaka.

Usai keduanya berpidato, sang moderator Sukarjo Wiryopranoto, lantas membuka sesi tanya jawab. Peserta pertemuan diberi kesempatan untuk bertanya kepada Bung Karno dan Bung Hatta. Namun, pertanyaan dari beberapa peserta malah tak mendapat jawaban serius. Bahkan sang moderator sempat beberapa kali mengejek pertanyaan yang dilontarkan oleh para pekerja.

Tak terima atas hal itu, Tan Malaka yang saat itu tengah membawa makanan tiba-tiba langsung meletakkan nampan wadah untuk makanan. Dari posisi paling belakang peserta, Tan langsung mengajukan pertanyaan kepada Bung Karno.

“Kalau saya tiada salah bahwa kemenangan terakhir akan menjamin kemerdekaan Indonesia. Artinya itu kemenangan terakhir dahulu dan di belakangnya baru kemerdekaan Indonesia? Apakah tiada lebih cepat bahwa kemerdekaan Indonesia-lah kelak yang lebih menjamin kemenangan terakhir,” tanya Tan yang saat itu dikenal sebagai Ilyas Hussein.

Dengan sikap yang tak begitu mempedulikan, Bung Karno lantas berdiri dan memberi jawaban. Saat itu Bung Karno menjawab jika Indonesia diberikan kemerdekaan saat itu juga oleh Jepang, nantinya Indonesia akan terpaksa juga memperjuangkan kemerdekaan itu.

“Buktikanlah jasa kita lebih dahulu! Berhubung dengan banyaknya jasa kita itulah kelak Dai Nippon akan memberikan kemerdekaan kepada kita,” demikian jawaban Bung Karno.

Merasa tak sehaluan dengan pemikiran Bung Karno soal kemerdekaan, Tan Malaka lantas kembali berbicara. Tan sadar perlunya perjuangan meski misalnya saat itu juga Indonesia telah merdeka. Namun, perjuangan kemerdekaan akan lebih semangat dilakukan jika bukan didasarkan atas janji pemberian pihak lain, melainkan atas usaha sendiri.

Menurut Tan Malaka semangat untuk membela naik dengan adanya hak nyata yang sudah ada di tangan. Dengan ditetapkannya hari kemerdekaan Indonesia maka rakyat Indonesia akan berjuang mati-matian untuk membela dan mempertahankannya.

Usai Tan berhenti bicara, Bung Karno langsung berdiri sambil merapikan pakaian dan melihat kanan kiri. Seakan ingin menunjukkan siapa dirinya, Bung Karno lantas dengan lantang memberikan sebuah pernyataan yang intinya tetap pada pendiriannya.

“Kalau Dai Nippon sekarang juga memberikan kemerdekaan kepada saya, maka saya (Soekarno) tiada akan terima,” kata Bung Karno.

Tak puas dengan jawaban Bung Karno, Tan Malaka pun hendak kembali melontarkan pendapatnya. Namun keinginannya itu tak bisa terlaksana. Seorang pengawas pekerja melarangnya untuk kembali berbicara.

“Saya terpaksa tidak mengizinkan lagi tuan Hussein (Tan Malaka) untuk berbicara,” kata pengawas itu.

Perbedaan pemikiran antara Tan Malaka dengan Bung Karno itu kemudian berlanjut hingga setelah proklamasi kemerdekaan. Namun saat itu Tan Malaka sudah membuka identitasnya. Bung Karno kukuh dengan pendiriannya untuk melakukan perundingan dengan Belanda, sementara Tan Malaka tak setuju. Tan memiliki prinsip kemerdekaan harus diraih 100 persen.

Perundingan hanya bisa dilakukan jika Belanda dan sekutunya mengakui kemerdekaan Indonesia 100 persen dan menarik pasukannya dari wilayah Indonesia. Jika hal itu tak terjadi, kemerdekaan dapat diraih dengan cara perang dengan strategi gerilya.

(Sumber: Merdeka.com)

Rabu, 04 Februari 2015

Selamat Ulang Tahun Himpunanku

68 tahun yang lalu, dimana Kakanda Lafran Pane beserta kawan-kawannya menuangkan gagasan-gagasan serta ide-ide mereka sehingga sampai detik ini kita masih bisa merasakan betapa hangatnya Himpunan yang mereka lahirkan ini. 68 Tahun sudah Himpunan ini melewati berbagai zaman, mencoba tetap bertahan dalam dinamika-dinamika yang terjadi. Tak jarang Himpunanku ini menuai kritik dan celaan serta caci maki, tetapi dengan Bersyukur dan Ikhlas serta Berdo'a dan Ikrar Himpunanku ini mampu menjawab caci makian itu semua.

Sering kali aku mendengar sebuah kalimat "Jangan pikirkan apa yang bisa HMI berikan kepadamu, tetapi pikirkan apa yang kamu bisa berikan untuk HMI". Ternyata benar, HMI ku ini hanyalah sebuah lambang yang tidak bisa bergerak,kaku dan mati. Tetapi Karena perjuangan dan semangat kader-kadernyalah Himpunan ini masih tetap bertahan sampai detik ini.

Selamat ulang tahun Himpunanku, Do'a ku semoga 68 tahun yang telah dilalui ini menjadi pembelajaran bagi kami semua, agar kami tetap bisa menjaga nama baikmu, agar kami tetap bisa menjadi Harapan negeri ini, dan agar kami tetap bisa melanjutkan cita-cita Para pendahulu kami untuk menjadi Insan yang diridhoi Allah SWT.
Yakin Usaha Sampai!!

Selamat Ulang Tahun Himpunanku

Selasa, 22 April 2014

AMBIVALENSI KEMAJUAN ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI

AMBIVALENSI KEMAJUAN ILMU PENGETAHUAN
DAN TEKNOLOGI
Oleh
Jumadi*
    
  Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) telah banyak mendominasi kehidupan manusia, termasuk interaksinya dengan alam sekitar dan sesamanya. Kemajuan Iptek banyak dijadikan sebagai tolak ukur menilai maju-tidaknya peradaban umat manusia di berbagai belahan dunia. Tidak mengherankan kalau akhirnya ilmu pengetahuan dan teknologi diagung-agungkan, dan setiap bangsa berlomba untuk memilikinnya. Tapi pertanyaan yang muncul adalah: Apakah Iptek merupakan pilihan satu-satunya bagi pengembangan peradaban manusia, bagi pemenuhan kebutuhannya dan untuk menjawab semua permasalahan yang dihadapinya? Dan apakah Iptek sama sekali tidak membawa serta sisi-sisi negative bagi manusia dan kehidupan pada umumnya? Dari kenyataan yang terjadi hingga sekarang ini, semakin disadari bahwa kemajuan yang semakin pesat dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, selain membawa manfaat besar bagi kehidupannya, juga membawa serta didalamnya masalah-masalah etis yang  serius. Itulah ambivalensi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Ambivalensi Kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi.
1. Optimisme Kemajuan Ilmu
     Tidak dapat disangkal bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi telah banyak membawa kemudahan dalam kehidupan manusia. Ada cukup banyak hal yang sebelumnya tidak terbayangkan, sekarang menjadi kenyataan. Hal ini terjadi di banyak bidang kehidupan, seperti misalnya di bidang transportasi dan komunikasi, yang kini sangat memudahkan setiap orang untuk pergi atau melakukan komunikasi kepada banyak orang. Di bidang pelayanan kesehatan terjadi kemajuan sangat pesat, yang telah membuat hidup bisa lebih berkualitas dan meningkatkan umur harapan hidup. Hal yang utama bertambah dengan kemungkinan-kemungkinan ilmu pengetahuan dan teknologi adalah kemampuan manusia itu sendiri. Filsuf Inggris, Francis Bacon (1561-1623) sudah menyadari aspek penting ini dengan menekankan bahwa knowledge is power. Dan filsuf Perancis, Rene Descartes (1596-1650) menuliskan sebuah keyakinannya di bagian akhir salah sau bukunya, bahwa umat manusia bisa menjadi “penguasa dan pemilik alam”. Kepercayaan akan kemajuan ilmu pengetahuan menjadi sangat kentara dalam pemikiran filsuf Perancis, August Comte (1798-1857), yang memandang zaman ilmiah- yang disebutnya “zaman positip”- sebagai puncak dan titik akhir eseluruh sejarah. 

LUNTURNYA MAKNA BHINEKA TUNGGAL IKA BAGI MASYARAKAT INDONESIA


Oleh: Muhammad Editya Perdana*
1. Pengertian dan Sejarah
Bhinneka Tunggal Ika adalah motto atau semboyan Indonesia.Frasa ini berasal dari bahasa Jawa Kuna dan seringkali diterjemahkan dengan kalimat “Berbeda-beda tetapi tetap satu”. Diterjemahkan per patah kata, kata bhinneka berarti "beraneka ragam" atau berbeda-beda. Kata neka berarti "macam" dan menjadi pembentuk kata "aneka" dalam Bahasa Indonesia. Kata tunggal berarti "satu".Kata ika berarti "itu". Dan secara harfiah Bhinneka Tunggal Ika diterjemahkan "Beraneka Satu Itu", yang bermakna meskipun berbeda-beda tetapi pada hakikatnya bangsa Indonesia tetap adalah satu kesatuan.Semboyan ini digunakan untuk menggambarkan persatuan dan kesatuan Bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang terdiri atas beraneka ragam budaya, bahasa daerah, ras, suku bangsa, agama dan kepercayaan. Bhineka tunggal ika merupakan kutipan dari sebuah kakawin Jawa Kuna yaitu kakawin Sutasoma, karangan Mpu Tantular semasa kerajaan Majapahit sekitar abad ke-14.
Munandar (2004:24) dalam Tjahjopurnomo S.J. mengungkapkan bahwa sumpah palapa secara esensial, isinya mengandung makna tentang upaya untuk mempersatukan Nusantara. Kemudian dilanjutkan dengan adanya Sumpah Pemuda yang tidak kalah penting dalam sejarah perkembangan pembentukan Jati Diri Bangsa ini. Sumpah Pemuda secara historis merupakan rangkaian kesinambungan dari Sumpah Palapa yang terkenal itu, karena pada intinya berkenaan dengan persatuan, dan hal ini disadari oleh para pemuda yang mengucapkan ikrar tersebut, setelah Sumpah Palapa.Para pemuda pada waktu itu dengan tidak memperhatikan latar kesukuannya dan budaya sukunya berkemauan dan berkesungguhan hati merasa memiliki bangsa yang satu, bangsa Indonesia.Ini menandakan bukti tentang kearifan para pemuda pada waktu itu.Dengan dikumandangkannya Sumpah Pemuda, maka sudah tidak ada lagi ide kesukuan atau ide kepulauan, atau ide propinsialisme atau ide federaslisme.Daerah-daerah adalah bagian yang tidak bisa dipisah-pisahkan dari satu tubuh, yaitu tanah Air Indonesia, bangsa Indonesia, dan bahasa Indonesia.Sumpah Pemuda adalah ide kebangsaan Indonesia yang bulat dan bersatu,
Pada saat kemerdekaan diproklamirkan, 17 Agustus 1945 yang didengungkan oleh Soekarno-Hatta, kebutuhan akan kesatuan dan persatuan bangsa Indonesia tampil mengemuka dengan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 sebagai dasar Negara RI. Sejak waktu itu, Sumpah Palapa dirasakan eksistensi dan perananya untuk menjaga kesinambungan sejarah bangsa Indonesia yang utuh dan menyeluruh. Seandainya tidak ada Sumpah Palapa, NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) akan dikoyak-koyak sendiri oleh suku-suku bangsa Nusantara yang merasa dirinya bisa memisahkan diri dengan pemahaman federalisme dan kedaerahan yang berlebihan. Gagasan-gagasan memisahkan diri sungguh merupakan gagasan dari orang-orang yang tidak tahu diri dan tidak mengerti sejarah bangsanya, bahkan tidak tahu tentang “jantraning alam” (putaran zaman) Indonesia.

MEMBAKAR KEMBALI SEMANGAT SUMPAH PEMUDA

MEMBAKAR KEMBALI SEMANGAT SUMPAH PEMUDA
Oleh
ADAM DWI CITALAKSANA*

Semenjak lahirnya Budi Utomo pada awal abad ke-20 atau lebih tepatnya pada tanggal 20 mei 1908 dan kemudian dijadikan menjadi hari lahirnya kebangkitan nasional, kelahiran Budi Utomo ini memberikan dampak yang baik dan direspon oleh pemuda Indonesia dengan munculnya organisai-organisasi kepemudaan dan himpunan pemuda maka semenjak itulah pemuda yang mayoritas dari kalangan mahasiswa sadar bahwasannya berperang melawan penjajah tidak lagi harus menggunakan senjata melainkan dengan menggunakan akal, pikiran, tekad niat dan juga persatuan.
            Ketika itu pula pemuda sadar bahwa sifat kedaerahan yang selama ini masih tertanam di benak mereka akan menghambat cita-cita yang hendak mereka capai. Begitu juga dengan sifat ketergantungan kepada pemimpin akan menjadi kendala bagi mereka untuk meraih kemerdekaan. Atas dasar inilah yang melatarbelakangi diselenggarakannya kongres pemuda.
Pada tanggal 28 Oktober 1928 malam, di Indonesische Clubgebouw yang penuh sesak, ribuan pemuda mendengar pidato penutupan Kongres Pemuda Indonesia ke-dua dan sekaligus mendengar lantunan lagu “Indonesia Raya” dari biola WR. Soepratman.
Menjelang penutupan, Muhammad Yamin, yang saat itu berusia 25 tahun, mengedarkan secarik kertas kepada pimpinan rapat, Soegondo Djojopoespito, lalu diedarkan kepada para peserta rapat yang lain. Siapa sangka, dari tulisan tinta Yamin di secarik kertas itulah tercetus gagasan Sumpah Pemuda.
Sumpah itu lalu dibaca oleh oleh Soegondo, lalu Yamin memberi penjelasan panjang lebar tentang isi rumusannya itu. Pada awalnya, rumusan singkat Yamin itu dinamakan “ikrar pemuda”, lalu diubah oleh Yamin sendiri menjadi “Sumpah Pemuda”. Berikut isi Sumpah Pemuda itu:
¨ Kami putera dan puteri Indonesia mengaku bertumpah darah yang satu, Tanah Indonesia
¨ Kami putera dan puteri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, Bangsa Indonesia
¨ Kami putera dan puteri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia

SEPAKBOLA SEBAGAI MEDIA PEMERSATU BANGSA

        SEPAKBOLA SEBAGAI MEDIA PEMERSATU BANGSA
Oleh
Irwan Sofyan Siregar*


   Cikal bakal rasa nasionalisme bangsa yang besar dengan beragamnya suku bangsa yang tersebar dari Sabang sampai Merauke pernah digunakan sebagai alat perjuangan bagi pemersatu bangsa. Begitu juga dengan olahraga yang telah mempersatukan bangsa begitu jua yang telah membuat permusuhan.
           Olahraga telah dikenal oleh banyak orang dari zaman dulu sampai sekarang sehingga olahraga ketenarannya tetap terjaga. Begitu banyaknya sesuatu yang dilakukan untuk pemersatuan bangsa lewat olahraga seperti olympiade, pon, asian games dll. Begitu Banyak juga kegiatan, organisasi yang berdiri karena olahraga ini dan berbagai club olahraga. Misalnya sesuatu yang dilakukan Baron Piere de Fredi Coubertin warga Perancis, dia menghidupkan kembali olympiade dengan tujuan pemersatuan bangsa di seluruh dunia.
Disisi lain Indonesia juga melakukan sesuatu perhimpunan, kegiatan untuk pemersatuan bangsa. Salah satunya tengok saja sejarah panjang lahirnya tiga organisasi tertua di Tanah Air yaitu perkumpulan olahraga Indonesia Moeda, PSSI, dan Pelti yang telah hadir di bumi persada ini sebelum dan sesudah lahirnya Boedi Utomo tahun 1908 meski awalnya kehadiran mereka masih bersifat kesukuan. Dan Itu fakta sejarah yang ada yaitu mereka yang masih bersifat individual. Tetapi itu tidak masalah karena tujuannya memang untuk mempersatukan bangsa.
Tiga tahun seusai dwitunggal kita Soekarno-Hatta memproklamirkan kemerdekaan 17-8-1945, lahir Pekan Olahraga Nasional Pertama (1948) yang tujuannya tidak lain adalah memperkuat dan mempererat lagi rasa kesatuan dan persatuan bangsa.
 Kepedulian terhadap sejarah perjuangan bangsa ini menghasilkan era keemasannya olahraga kepemimpinan Bung Karno sebagai presiden pertama yang tidak pernah lupa atau kabur dengan sejarah perjuangan bangsa ini berhasil mengangkat prestise bangsa maupun prestasi atletnya. Tetapi di mana posisi prestasi olahraga kita saat ini. Jangan lagi kita bicara tingkat Asia, di tingkat Asia Tenggara saja kita bahkan sudah tertinggal jauh dari Thailand dan Malaysia, bahkan mulai terkejar oleh negara yang baru usai perang saudara berkepanjangan,
Olahraga pada umumnya dan Sepakbola pada khususnya, sebenarnya merupakan wahana yang tepat sebagai alat pemersatu bangsa ini, yang akhir2 ini semakin diwarnai pesimisme. ketika banyak diwarnai kekerasan, kecurigaan, dan sarat kepentingan berbagai pihak dan golongan.